cerita mudik
BPN30DayRamadhan2019

Cerita Seputar Mudik ala de’Fajar Family

Bismillahirrahmanirrahiim. Assalamu’alaykum kawan narablog.

Mudik adalah aktivitas tahunan yang akrab di telinga para perantau yang merasa masih memiliki kampung halaman. Aku dan Pak Suami berasal dari kota yang bersebelahan. Aku dari Solo, beliau dari Boyolali. Jadi ketika mudik, sekali jalan maka 1 dan 2 kota terdatangi – hehehehe. Cerita mudik ala de’Fajar Family ini selalu seru setiap tahunnya.

#Masa Pacaran (2005-2006)

Kala masa pacaran ini, aku masih kost di Cikarang, sedangkan Pak Suami masih kontrak di Bandung. Tahun 2005 kami masih mudik dari masing-masing tempat. Aku mudik naik Bus GMS (Gajah Mulia Sejahtera) dari pemberangkatan bus di depan Kota Jababeka hingga Terminal Tirtonadi, Solo. Pak Suami naik Bus Pahala Kencana dari Terminal Cicaheum Bandung hingga Terminal Bus Boyolali. Kami komunikasi via SMS saja, jaman dulu belum ada Whatshap kawan – hehehehe.

Tahun 2006, menjelang pernikahan, aku mulai diajak mendekat dengan keluarga kakaknya yang tinggal di Bandung (Adek dan Kakak kedua tinggal di Bandung). Jadi aku mudik ke Solo bareng mereka dari Bandung naik Bus Pahala Kencana. Aneh siy pastinya, serasa penyusup di keluarga inti gitu. Tapi ya dasarnya aku kan orangnya sok kenal sok dekat ya, nikmati saja perjalanan. Harapannya bisa duduk sebelahan dengan Pak Suami, eh, disuruh duduk ama Adek dan keponakannya. Hahahaha, belum muhrim Buk, sabar ya.

#Masa Awal Menikah hingga memiliki Anak Pertama (2007-2013)

Nah, setelah menikah, kami mulai menentukan lokasi kunjungan pertama ketika mudik. Kalo sebelum menikah, tujuannya masih masing-masing, maka setelah menikah harus satu tujuan. Berhubung bapak dan ibu Boyolali sudah tidak ada (Aku tak punya mertua kawan), maka lokasi kunjungan pertama adalah di rumah ortuku di Solo. Dari Bandung ke Solo lebih mudah dan nyaman dicapai dengan menggunakan moda transportasi kereta api. Rumah ortuku juga tidak terlalu jauh dari Stasiun Balapan. Jadilah setiap mudik kami harus berburu tiket kereta api di Stasiun Besar Bandung.

Berhubung dahulu pembelian tiket kereta api masih manual maka Pak Suami dan Adekku suka mengantri di stasiun sejak pukul 5 pagi, sedangkan loket pembelian tiket baru dibuka pukul 7 pagi. Pembelian tiket tetap 3 bulan sebelum keberangkatan, namun karena masih manual maka pembeli harus antri di stasiun. Antri dilakukan 2 kali, pertama untuk pembelian tiket keberangkatan ke Solo dan kedua untuk tiket pulang ke Bandung. Perjuangan bok, itulah serunya menjadi pemudik -hehehehe.

Setelah urusan tiket sukses, masih ada tugas berikutnya. Apakah itu? Yaitu mengirimkan motor ke Solo melalui jasa ekspedisi. Maklum, di rumah Solo hanya ada 1 motor yaitu motor bapak. Jadi untuk bolak-balik Solo ke Boyolali kemudian ke Solo lagi, kami harus membawa motor dari Bandung. Pengiriman motor ini maksimal 1 minggu sebelum hari lebaran. Nah, Si Var-Var niy yang suka kami kirim duluan. Untuk berangkat dan pulang kerja, kami menggunakan Si Black Grandy. Kami belum pernah mudik menggunakan moda transportasi kendaraan roda 2 dari Bandung ke Solo.

#Masa Memiliki Duo Fajar Junior (2014-sekarang)

Alhamdulillah pada tahun 2013, kami mendapatkan rezeki yang cukup sehingga dapat membeli Si Coco Cempluk. Kali pertama mudik dengan Si Coco Cempluk merupakan pengalaman pertama juga bagi Pak Suami menyetir mobil jarak jauh. Berangkat dari Bandung diantar oleh Pak Marsum (sopir kantor lama Pak Suami), kemudian kembali ke Bandung disetir sendiri oleh Pak Suami. Pengalaman pertama ini bikin kaki bengkak karena kelamaan di jalan akibat kemacetan lalin mudik.

Kakak protes gak mau mudik naik mobil, akhirnya mekanismenya diubah. Aku dan duo fajar junior mudik tetap dengan kereta api (saat itu sudah mulai bisa membeli tiket secara online, sehingga lebih mudah). Sedangkan Pak Suami naik mobil bersama dengan Adek atau Kakak (setiap tahun partnernya bergantian, pernah dengan bulik Tuti, pernah dengan keluarga Om Oky dan pernah dengan keluarga Pakde Hari).

Kembali ke Bandung kami bersama-sama naik mobil karena kami memilih tidak pulang pada puncak arus balik sehingga lalin relatif aman dan tidak terlalu macet. Kami juga mulai roadtrip dengan singgah untuk menginap di beberapa kota. Selain Pak Suami bisa istirahat, anak-anak juga tidak terlalu capek dan bosan di perjalanan.

Baca juga: https://novya.id/rencana-menjelajah-berujung-pada-muter-muter-jalur-mudik-day-8/

Kejadian “Brexit” di Pantura

Ingat gak dengan kejadian pertama kali nya Tol Cipali dibuka yang pada akhirnya menimbulkan tragedi “Brexit” di jalur Pantura? Nah, waktu itu Pak Suami dan adik iparku yang menjadi salah satu saksi kejadian kemacetan yang super parah itu. Mereka terjebak kemacetan hingga 2 hari di jalur pantura. Kejadian itu terjadi pada mudik lebaran tahun 2016. Kejadian itu membuat mereka berdua tidak berpuasa dikarenakan udara panas di pantura ditambah tidak bisa menyalakan AC mobil karena untuk menghemat bahan bakar. Kami yang menunggu kedatangan mereka di Solo dan Boyolali sangat khawatir dengan kondisi mereka berdua. Alhamdulillah keduanya selamat sampai di Boyolali dan Solo.

Tahun 2018 lalu, kami tidak pulang membawa Si Coco Cempluk karena Pak Suami hanya mudik sebentar. Jadi kami pulang ke Solo dan kembali ke Bandung menggunakan moda transportasi kereta api. Tahun 2019 ini insyaAllah berangkat ke Solo menggunakan moda transportasi kereta api dan kembali ke Bandung dengan roadtrip bersama Si New Silver.

Nah, ini cerita mudikku. Bagaimana dengan cerita mudik kalian?

Alhamdulillah, wassalamu’alaykum.

#Day18 #BPNetwork #BPNChallenge2019 #BPNRamadhanChallenge2019

Aku seorang wanita yang suka menulis, melalui tulisan aku dapat mengalirkan aliran rasa yang ada di diri, melalui tulisan aku berharap dapat berbagi kebaikan dan melalui tulisan aku dapat bahagia.

26 Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: