Gerbang
Cerita Sekolah S3 ku

Gerbang Itu Sudah Terbuka

Bismillahirrahmanirrahiim. Assalamu’alaykum kawan narablog.

Hai kawan, pa kabar? Yup, ini adalah ruangan baruku untuk menuliskan perjalanan sekolahku saat ini. Sebuah perjalanan yang tak direncanakan secara dalam olehku, namun kini hadir dalam hidupku dan harus tetap kujalani dengan hati bahagia dan rasa syukur yang besar. Tulisan ini tak sepenuhnya isi curahan hati kok, hanya berbagi cerita saja.

Skenario yang tak bisa ditebak

Pernah gak kita menjalani fase kehidupan yang sama sekali tak kita rencanakan dari lama? Aku yakin, pasti ada. Seperti kematian misalnya. Emang kematian bisa kita rencanakan? Gak kan, dia bisa datang kapan saja sehingga kita harus selalu siap sedia untuk mempersiapkan bekal menuju perjalanan ke alam barzah. Duh ngeri ya kalo ngomongin kematian tuh. Ngeri namun kita semua akan mengalaminya, tinggal menunggu waktunya saja. Kali ini aku gak akan bicara tentang kematian, karena aku akan bicara tentang rezeki.

Rezeki juga sesuatu yang tak tertebak, kapan dan apa? Kali ini aku mendapatkan rezeki yang tak terduga yaitu kesempatan untuk meneruskan pendidikan di jenjang Strata 3 (S3). Kalo S2 dulu, memang sebuah jenjang pendidikan yang sangat aku impikan, sehingga semesta pun mendukung. Aku yang sudah keluar dari lingkungan kampus pun akhirnya bisa berputar kembali masuk di lingkungan kampus. S3, hmmmm, kesiapan menghadapinya baru aku susun di awal Januari 2019 lalu. Kata orang, ini adalah sebuah persiapan yang nekad. S3 itu harusnya disiapkan minimal 1 tahun sebelumnya, bukan mendadak dangdut seperti ini.

Niat awal adalah resign. Jalan yang menuju resign kini berbelok menjadi sekolah S3. Sebuah perjalanan baru di usia menuju kepala 4. Awalnya berusaha membatalkan tawaran ini, namun apa daya, apabila sudah menjadi suratan takdir maka semua yang kita rencanakan pun bisa berubah. Baiklah, bersiap menghadapi babak baru dalam kehidupan.

Baca juga: https://novya.id/sebuah-persiapan-menjelang-usia-40-tahun/

Perjalanan itu dimulai

Setelah kita bisa menerima babak baru ini, tahap selanjutnya adalah menikmati perjalanan. Apa saja perjalanan yang harus aku lalui untuk menuju ke keputusan besar itu?

#1. Menjalani beberapa tes

Ada 2 tes penting yang harus kita lakukan sebelum melakukan pendaftaran, yaitu tes TPA dan tes Kemampuan Bahasa Inggris (ELTP ITB atau TOEFL). Aku kurang bersemangat mengikuti tes ini karena ya memang dari awal kurang yakin dengan pilihan melanjutkan pendidikan. Tes Kemampuan Bahasa Inggris, aku mengikuti 2 kali dikarenakan pada tes pertama, nilai totalnya dibawah batas nilai persyaratan pendaftaran pasca sarjana. Aku diminta untuk mengikuti tes kedua. Hohoho, baiklah, pada akhirnya aku mengikuti tes kedua, dan hasilnya adalah nilai totalku melebihi batas nilai persyaratan.

Selanjutnya tes TPA (Tes Potensi Akademik). Pada tes ini aku sama sekali tidak mempersiapkan diri alias tidak belajar. Tetap dengan tujuan agar tidak lolos. Qadarullah, nilai akhir TPA lebih tinggi dari batas nilai persyaratan. Well, aku pun tetap harus meneruskan perjalanan ini. Dari 2 kondisi ini, sudah tersirat bahwa apa yang kita inginkan, belum tentu itu yang akan diberikan oleh Allah SWT.

#2. Mencari dosen pemberi rekomendasi

Okeh, usahaku untuk mundur di tahap tes tidak sukses. Baiklah, mari kita coba lagi ke tahap berikutnya. Dosen pembimbing S2 aku dulu keberatan memberikan rekomendasi. Beliau tidak menyarankan aku melanjutkan S3, beliau meminta aku melanjutkan S2 namun dengan bidang keilmuan yang lain sehingga dapat memperkaya wawasan aku (yup, karena aku bukan dosen sehingga pendidikan S3 memang tidak diperlukan). Disini aku akan bercerita betapa bingungnya aku ketika dihadapkan pada sebuah kondisi adanya perbedaan pendapat antara atasanku dan dosen pembimbingku. Keduanya sudah kuanggap sebagai panutan dalam kehidupan sosialku.

“Gampang aja sebenarnya, tinggal ikuti kata hatimu saja”, banyak pendapat kawan-kawan ku yang memberikan komentar itu. Sayangnya, aku bukan tipikal orang yang bisa melenggang begitu saja. Posisiku sudah tidak jadi resign, sudah tidak menjabat, rasanya kurang asyik apabila tak ada tantangan. (bukan hitung-hitungan ya). Terkait jabatan aku sudah lepaskan itu, namun kalo di kantor hanya menjadi staf biasa-biasa saja (just normally activity), aku gak mau. Akhirnya pilihan sekolah ini yang membuat aku bertahan. ILMU, yup mendapatkan ilmu. Aku memang senang belajar, itulah yang membuatku menerima tawaran untuk sekolah sebagai pengganti aku tidak menjabat dan tidak jadi resign.

Kembali ke surat rekomendasi. Aku sudah bersorak senang ketika aku tidak mendapatkan rekomendasi dari dosen pembimbing. Itu artinya aku tidak bisa memenuhi salah satu persyaratan pendaftaran yang diminta dimana surat rekomendasi harus ada 2 buah (dari dosen/atasan kerja) sedangkan aku baru mendapatkan 1 surat rekomendasi yaitu dari atasanku. Namun ternyata atasanku pun tidak menyerah, dia berusaha membantu mencarikan solusi dan akhirnya diperoleh salah satu Ketua Kelompok Keahlian (KK) di prodi yang aku pilih bersedia memberikan rekomendasinya. Oh Dear! Gak jadi gagal kembali kawan.

#3. Menyusun proposal rencana riset

Ini bagian yang paling sulit. Bisa jadi karena kekurangsiapan dari diriku di awal sehingga aku tidak memiliki gambaran topik riset yang akan aku jalani. S3 itu jauh berbeda dengan S2. Dulu ketika S2, aku bisa memilih topik riset setelah menjalani kuliah terlebih dahulu sehingga sudah terbayang apa yang harus dipilih dan dilakukan. Kalau S3, sebaiknya memiliki gambaran kasar topik itu minimal 1 tahun sebelumnya sehingga mulai bisa menyicil membaca paper dan jurnal yang berkaitan jauh-jauh hari.

S3 itu ada silabus namun lebih banyak pada penelitian dan penelitian, mata kuliah hanya ada 5 mata kuliah saja. S3 memang fokusnya pada penelitian sehingga kita harus banyak membaca dan membaca. Calon mahasiswa S3 harus memiliki roadmap tahapan proses penelitiannya. Kata kawan aku, kuliah hanya ada di semester pertama. Semester selanjutnya hingga 3 tahun kedepan adalah riset dan riset lagi. Aku sempat menunda pendaftaran dikarenakan belum siap menyusun proposal rencana riset. Atasanku tetap mendukung dan tetap memberi semangat bahwa aku bisa dan bisa. Oh Dear, pada akhirnya aku pun menyusun proposal rencana riset untuk persyaratan pendaftaran. Gagal batal lagi deh.

#4. Menjalani tes seleksi

Setelah semua persyaratan terkumpul, saatnya melakukan pendaftaran dan menjalani seleksi. Aku masih berharap untuk gagal melanjutkan S3 (aneh) (yup memang aneh). Apabila aku gagal, aku lebih enak menyampaikan mundur ke atasan karena memang kondisi nyatanya aku gagal. Namun apabila menyatakan mundur tanpa mencobanya dulu rasanya akan menimbulkan penasaran bukan?. Aku berharap gagal pada tahap wawancara. Saat wawancara, kulihat daftar nama dosen yang akan mewawancarai. Wow, dari 4 dosen, hanya 1 nama dosen yang belum kukenal. Jadi, 3 dosen pewawancara itu aku sudah kenal dengan baik. Hmmm, apakah aku bisa menggagalkan diri di tahap ini?

Ntahlah, yang pasti aku hanya menjalaninya saja dan berusaha menjawab dengan jujur setiap pertanyaan yang diajukan. 2 pertanyaan yang sudah kuprediksi akan keluar ternyata memang ditanyakan juga oleh dosen-dosen yaitu (1) Anda kan tendik dari UKP (bukan dosen), mengapa Anda ingin melanjutkan sekolah S3? (2) Anda kan S1 dan S2 dari Teknik Sipil, mengapa S3 mengambil Arsitektur?. Kedua pertanyaan ini, kujawab dengan sejujurnya. Tetap donk berharap jawabanku akan menghambat perjalananku di tahap ini. Sebuah usaha untuk menggagalkan diri hehehehe.

#5. Menerima hasil dari proses seleksi

31 Mei 2019, ini adalah tanggal pengumuman hasil seleksi Gelombang 2. Yup, pada akhirnya aku memutuskan mendaftar di gelombang 2 setelah sebelumnya ragu ingin mendaftar di gelombang 3. Kubuka website dan nampaklah hasil akhir dari proses ..jeng..jeng..jeng..bagaimanakah hasilnya? Ini lah dia, taraaammmpammmmpammmmm.

Gerbang
Hasil Seleksi (dokpri)

Aku gemetar dan panik ketika membaca hasil seleksi ini. What should I do with this? Perasaan campur aduk menghantui diriku. Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku persiapkan? Kegalauan demi kegalauan pun mendera satu per satu. Sudah siapkah aku untuk menjalaninya? (kelihatan sekali kan kepanikanku karena memang belum dipersiapkan dengan baik bekal untuk perjalanan kali ini). Tapi hasil sudah keluar, proses selanjutnya harus dijalani. Mau mundur bisa, namun konsekuensinya aku kelak tidak bisa sekolah di ITB lagi. Kan aku tidak tahu, kedepan seperti apa bukan?

Dari bulan Mei sampai dengan Juli, aku masih galau. Maju atau mundur? Suami pada prinsipnya mendukung apapun keputusanku. Aku selalu memikirkan dampak dari setiap keputusanku. MAJU, aku harus siap dengan pengelolaan waktu yang baik, menjaga mood untuk tetap baik, mental yang kuat, menyusun roadmap yang jelas dan realistis, dan pastinya harus semaksimal mungkin tepat waktu menyelesaikan sekolah. MUNDUR, aku bisa mundur dengan segala risiko, aku menjadi staf biasa, kedepan tidak dapat sekolah di ITB (salah satu syarat sekolah di ITB adalah tidak pernah menyampaikan surat pengunduran diri), tidak enak hati dengan dosen pemberi rekomendasi dan dengan atasanku pastinya.

Well, baiklah aku tetap bertahan. MAJU adalah pilihanku!

Gerbang pun kini sudah terbuka

31 Juli 2019. Yup, ini adalah hari kemarin kawan. Itu adalah jadwal untuk daftar ulang prodi dimana aku diterima menjadi calon mahasiswa S3. Ada sebuah rasa gundah sebelum daftar ulang. Ada apakah? Aku mendaftar beasiswa juga namun sampai dengan waktu daftar ulang tiba, belum ada pengumuman hasil beasiswanya. Trus? Ya aku harus bayar sendiri dulu untuk uang semester 1 ini. Setelah mengais-ngais tabungan di rekening sisa masa kejayaan jadi pejabat dulu ternyata jumlahnya masih kurang. Pusing? Yup lah. Aku menyapa suami, alhamdulillah beliau berkenan membantu memberikan pinjaman uang untuk tambahan. Makasih Pak, I love You!.

Aku pun melakukan daftar ulang dan mendapatkan NIM (Nomor Induk Mahasiswa). Ini artinya gerbang sudah terbuka. Status mahasiswa sudah bisa disandang dan tinggal menunggu penobatannya di Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru pada tanggal 15 Agustus 2019 nanti. What a Day! Sudah waktunya untuk serius kawan, tidak boleh bercanda apalagi main-main. Ingat-ingat 15 juta/semester (ini mahal Mak). Aku harus semaksimal mungkin bisa selesai tepat waktu. Tidak boleh seperti S2 lalu.

Gerbang
Suasana Daftar Ulang (dokpri)

Marilah kita mulai dengan BASMALLAH, semoga diberikan kelancaran, kemudahan dan keringanan. Aamiin. Bertemu kembali dengan cerita kisah S3 nanti ya kawan. (Ini adalah sebuah catatan perjalanan bagi salah satu babak kehidupanku).

JALANI ~ SYUKURI ~ NIKMATI

Tak ada yang salah dengan apa yang hadir dalam kehidupan kita, yang salah adalah pilihan sikap kita dalam menyambut kehadirannya

novya.id

Alhamdulillah, Wassalamu’alaykum.

#Catatan diawal kisah

Aku seorang wanita yang suka menulis, melalui tulisan aku dapat mengalirkan aliran rasa yang ada di diri, melalui tulisan aku berharap dapat berbagi kebaikan dan melalui tulisan aku dapat bahagia.

3 Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: