Jawa Barat

Catatan Perjalanan: Jalan-jalan ke Kampung Naga

Ketika sebuah kesepakatan terjadi antara aku dan suami bahwa rombongan tanjidor tercinta kami akan melakukan perjalanan ke Kota Garut, aku pun mulai berburu informasi melalui internet terkait GARUT. Kami berdua berbagi tugas, untuk liburan kali ini belum melibatkan anak-anak, bukan kenapa-napa siy..hanya saja Kak Iya (10 tahun) lagi pengen ikut jalan-jalan aja dan nginep sedangkan Dek Daanish (4 tahun) pasrah aja deh yang penting pergi ama ayah dan ibunya (hehehehe). Suami bertugas booking hotel dan bayar dong pastinya (hehehehe) sedangkan aku bertugas berburu lokasi wisata dan lokasi kuliner (paling enak kan?). Sebenarnya ini bukan kali pertama kami liburan ke Kota Garut, udah ke 3 kali kalo gak salah  bersama keluarga. Sebelumnya kami pernah berkunjung ke Puncak Darajat kemudian bersama keluarga besar kantorku kami ke Kamojang. OK, mendekati hari H keberangkatan, suami sudah mendapatkan hotel dan aku sudah mendapatkan rincian perjalanan liburan kali ini. Kami memutuskan berangkat pada hari Jumat malam dan rencana kembali ke Bandung pada hari Minggu siang, ini artinya 2 hari full di Kota Garut. Ada 2 kampung adat yang akan kami kunjungi (kenapa memilih kampung adat?)..karena ingin mengenalkan langsung ke Kak Iya tentang kampung adat yang sebelumnya dia pernah pelajari pada pelajaran Bahasa Sunda di sekolah. Yup…yaitu Kampung Pulo (next aku ceritakan di blog juga) dan Kampung Naga.

Kali ini aku langsung cerita tentang hasil jalan-jalan kami ke Kampung Naga. Hari Minggu, 15 April 2018, setelah sarapan di hotel kami berangkat menuju Kampung Naga. Keluar sekaligus check out dari hotel pukul 08.00 wib dan mengandalkan panduan dari Waze, kami melakukan perjalanan menuju Kabupaten Tasikmalaya (ya Kampung Naga terletak di Desa  Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat). Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit, kami sampai di lahan parkir yang cukup luas dan terpampang jelas tulisan “Welcome to Kampung Naga”. Suami memarkirkan mobil dan aku berkeliling melihat-lihat sekitarnya untuk mencari seorang pemandu (ya kalo berkunjung kesini sebaiknya didampingi pemandu jadi akan dapat informasi yang tepat dan pastinya lebih nyaman). Akhirnya kami dipertemukan dengan Kang Yudi yang akan mendampingi kami berkunjung. Kang Yudi ini masih keturunan dari Kampung Naga yang sekarang tinggal di kampung luar. Oia kawan jangan berkunjung ke Kampung Naga pada hari larangan ya yaitu hari Selasa, Rabu dan Sabtu (boleh tetap berkunjung namun kita tidak akan dapat informasi tentang budaya dan adat istiadat disana karena pemandu tidak akan menjelaskan apapun). Inilah yang membuat aku dan keluarga berkunjung di hari Minggu (hasil hunting informasi duluan lah).

Dari lokasi parkir kami menuju ke sebuah gang dan mulai terlihat tangga batu yang sudah tersusun dengan rapi (kata Kang Yudi, masyarakat Kampung Naga hanya mau menerima bantuan pemerintah berupa minyak tanah dan pembangunan tangga batu ini). Tangga batu ini jumlahnya 439 anak tangga (aku mah percaya aja daripada disuruh hitung satu per satu hehehehe). Turunnya siy asyik dan sudah dapat dibayangkan naiknya pasti ngos-ngos an lah buat aku (hehehehe). Udaranya masih segar serta pemandangannya hijau segar.

kampung naga

Diujung anak tangga terbawah kita mulai melihat rumah-rumah Kampung Naga. Dari ujung anak tangga ini pula kita akan melihat saluran irigasi dan PLTA mini, sungai ciwulan yang berhulu di Garut, dan hamparan sawah milik masyarakat. Walaupun ada PLTA, masyarakat Kampung Naga tetap memilih hidup tanpa listrik. Penerangan rumah menggunakan petromax, ada yang terlihat memiliki TV namun menggunakan sumber listrik dari Accu.

kampung naga

Kali ini aku lebih tertarik pada penjelasan tentang tata letak rumah yang ada di Kampung Naga (bukan karena aku anak Sipil tapi kupikir sudah banyak lah penjelasan tentang sejarah Kampung Naga yang bertebaran di internet). Inilah bentuk rumah yang semuanya seragam, yang beda hanya bangunan gedung serbaguna dan masjid yang ukurannya jauh besar dan bumi ageung yang kebalikannya yaitu lebih kecil.

Rumah ini ukurannya sekitar 4 x 2 meter (mungkin..coz gak sempat nanya dan gak ngukur juga, tapi yang pasti siy imut banget karena kami sempat masuk ke dalam rumah salah satu warga ditemani oleh Kang Yudi) dan berbentuk rumah panggung sehingga dibawah rumah dapat dimanfaatkan untuk menyimpan ternak ayam. Denah rumah terdiri dari 6 ruangan yaitu ruang tamu, ruang kosong, ruang keluarga, kamar tidur (kamar tidur hanya boleh 1 saja mau anaknya banyak pun), dapur dan goah (ruang khusus untuk menyimpan padi yang terletak di sebelah dapur dan hanya perempuan saja yang boleh masuk kedalamnya). Atap rumah terbuat dari daun tepus dan ijuk aren (menurut Kang Yudi, bahan atap ini kuat hingga 40 tahun). Pintu ada 2 buah dan keduanya berada di depan rumah (kata Kang Yudi, pintu rumah harus 2 buah dan keduanya harus diakses dari depan). Bentuk pintu juga beda, untuk ruang tamu full kayu yang menggunakan kayu Albasia sedangkan dapur di pintunya terdapat anyaman yang fungsinya untuk ventilasi sehingga asap dari dapur tidak membuat ruangan lainnya pengap. Dinding dapur dan dinding ruangan lainnya juga beda, yang membedakan adalah jenis anyamannya. Dinding dapur menggunakan anyaman sasak yang disebut juga dengan bilik sedangkan dinding ruang lainnya menggunakan anyaman kepang. Anyaman kepang ini lebih rapat dibanding anyaman sasak dikarenakan ruang lainnya lebih privasi. Dinding dapur dibuat dengan anyaman sasak yang lebih jarang dikarenakan agar dapat melihat dari dalam apabila ada orang di luar. Alas pada dapur menggunakan palupuh dari bambu gombong yang bertujuan apabila ada tumpahan air dapat langsung jatuh keluar sehingga tidak menggenang sedangkan alas lantai ruangan lainnya menggunakan kayu Albasia.

kampung naga
kampung naga

Mengapa diberi nama Kampung Naga? Naga disini diambil dari kata Nagawir yang artinya ditebing. Dari kejauhan tampak kampung Naga ini berada di tebing dengan batasan sawah, hutan dan sungai. Di atas kampung terdapat hutan keramat (hanya laki-laki yang boleh kesini dikarenakan disini terdapat makam keramat para leluhur kampung naga) dan di bawah kampung tepatnya di seberang sungai terdapat hutan larangan (tidak boleh siapapun masuk ke hutan ini). Tata letak rumah juga diatur, ada wilayah dalam dan ada wilayah luar. Wilayah dalam terdiri dari 113 buah rumah (tidak bertambah) termasuk di dalam Bumi Ageung (tempat sesepuh mempersiapkan upacara adat), gedung serbaguna dan masjid. Di wilayah dalam ini semua aktifitas dilakukan kecuali mandi dikarenakan untuk MCK diletakan di wilayah luar. Masyarakat menumbuk padi untuk mendapatkan beras yang dilakukan di saung lisung di wilayah luar juga. Di wilayah luar juga terdapat kolam-kolam ikan. Batas antara wilayah luar dan dalam berupa pagar bambu.

kampung naga

Satu hal lagi yang membuatku tertarik adalah susunan batu kali yang digunakan sebagai undakan dan pengeras jalan agar tidak becek, dengan susunan  batu kali bulat terkesan rapi.

kampung naga

Kampung Naga tidak mau disebut kampung wisata karena apabila disebut kampung wisata maka akan menjadi komersial, ada kekhawatiran dari warga kampung naga yang sudah tinggal di luar kampung akan dipungut biaya apabila akan berkunjung kesana. Di dekat gedung serbaguna diletakan kencleng yang pengunjung dapat mengisi seikhlasnya dan juga diletakan buku tamu yang digunakan sebagai laporan ke aparat desa akan jumlah tamu yang berkunjung. Pemandu disana sudah terkoordinasi dengan tips seridlonya dari para tamu yang didampingi. Kami juga sempat sholat dhuhur di dalam masjid, bersih, luas dan bagus alas lantainya.

kampung naga

Okay..sekian dulu cerita kami dari jalan-jalan ke Kampung Naga. Mengenal budaya Indonesia itu sangatlah menyenangkan, mari ajak anak-anak kita untuk mengenal budaya Indonesia.

kampung naga

Setoran minggu ke-21 @1minggu1cerita

32 Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: