Bali

Kerja, Liburan dan Nonton Tari Kecak di Bali

Bismillahirrahmanirrahiim. Assalamu’alaykum kawan narablog.

Alhamdulillah, awal tahun 2018 tepatnya di Bulan Februari, aku dan 4 orang teman kantorku mendapat rezeki untuk mengikuti pelatihan di Bali. BALI??????….Iya Bali bukan Eropa (hehehehe). Apa yang terbayang di benak kalian ketika mendengar kata “BALI”? Yup benar, liburan…eits…kan mo pelatihan bukan liburan. Ah sudahlah..prakteknya pasti banyak liburannya dibanding ama pelatihan deh. Oia..tujuan kami tidak hanya ke Bali saja. Setelah pelatihan di Bali selama 2.5 hari kami akan melanjutkan perjalanan ke Pulau Lombok. Mo ngapain ke Pulau Lombok? Sabar…tunggu cerita aku selanjutnya ya….

Total perjalanan yang akan aku lakukan kali ini adalah selama 5 hari ke Pulau Bali dan Pulau Lombok. Naik pesawat dong? Iya lah pastinya. Cuaca di Bandung beberapa hari sebelum aku berangkat adalah hujan deras dan angin kencang. Nah, ini lah yang sempat membuat aku mengurungkan niat untuk mengikuti perjalanan tugas kali ini. Semakin mendekati hari keberangkatan, hatiku semakin tidak tenang. Aku nyaris membatalkan keberangkatanku di malam itu. Aku cerita ke Pak Suami akan ketidak-tenangan hatiku.

“Ibu takut apa? kan sudah pernah naik pesawat?” tanya Pak Suami

“Ntahlah Yah, jujur aku takut mati.” jawab ku

“Kematian itu bisa dimana saja bu, tidak harus dengan naik pesawat. Sudah, banyak istighfar dan tarik nafas.” kata Pak Suami dari benua sebrang sana.

Aku perbanyak dzikir dan istighfar malam itu. Pagi harinya setelah sholat subuh, aku berangkat ke Bandara Husein dengan naik ojek. Langit saat itu terang dan penuh bintang padahal sehari sebelumnya selalu mendung. Semua proses check-in berjalan lancar dan rasa khawatir di hatiku mulai berkurang. Ketika kami memasuki pesawat, aku melihat sinar matahari mulai menyapa dari ufuk sebelah timur langit. Garuda, aku siap untuk terbang hari ini (yup, kami menggunakan maskapai Garuda Indonesia).

Denpasar, Bali
Garuda, aku siap terbang

Perjalanan Bandung-Denpasar ditempuh dalam waktu 1.5 jam dan hebatnya aku merasakan ketenangan yang luar biasa. Ketenangan hatiku ditunjang juga dengan cuaca yang cerah selama perjalanan ini sehingga turbulensi tak terasa sama sekali. Well…pantai di Pulau Bali sudah mulai nampak.

Alhamdulillah, kami mendarat dengan selamat di Bandar Udara International I Gusti Ngurah Rai. Selanjutnya perjalanan menuju Hotel Mercure Kuta kami lakukan dengan menggunakan taksi online.

Denpasar, Bali
You are Working Hard Everyday, Enjoy Your Vacation

Membaca tulisan di billboard depan bandara langsung pengen eksis dan semakin memantapkan diri bahwa kami bukan mo pelatihan tapi liburan –hehehehe–, langsung lupa juga dengan kepanikan mo naik pesawat semalam.

Hari pertama di Bali

Setelah kami melakukan check-in di hotel dan masing-masing sudah mendapatkan kamar, kami langsung bersiap menuju ke ballroom ruang pelatihan (lokasinya di hotel yang sama). Pelatihan hari pertama ini hanya pembukaan saja sehingga kami bisa pulang cepat (kayak anak sekolahan aja ya). Kami tak mau melewatkan Bali begitu saja. Waktu yang ada ini kami gunakan untuk liburan alias jalan-jalan alias vacation alias piknik donk.

Dari mulai menyusuri jalan di sepanjang Pantai Kuta (kami tidak masuk ke Pantai Kuta dikarenakan setiap sore hari, angin pantai kencang sekali hingga menerbangkan pasir-pasir pantai serta ombak yang besar). Akhirnya kami memutuskan jalan-jalan menjauh dari pantai dan menutup hari pertama di Bali dengan belanja di Pusat oleh-oleh KRISNA lanjut makan malam di hotel.

Denpasar, Bali
Menikmati sunset dari hotel

Hari kedua di Bali

Pelatihan hari kedua ini berlangsung lebih cepat (entah kenapa ya…milih pelatihan kok di Bali ya pastilah pada gak fokus…baik itu peserta maupun panitia). Tenang, ilmulah mah udah dapat kok –hehehehe–. Kami pun memutuskan untuk sewa mobil dan melakukan perjalanan ke Uluwatu. Yup, kami pengen nonton Tari Kecak sambil melihat sunset di Samudra Hindia. Sewa mobil kurang lebih Rp. 500 ribu sudah termasuk sopir dan BBM dan perjalanan ditempuh dalam waktu kurang lebih 45 menit dari Kuta.

Tiket masuk ke pura Uluwatu adalah Rp. 100.000/orang dan sewa selendang/kain batik Rp. 20.000/orang. Selendang/kain batik ini wajib kita gunakan ketika kita memasuki sebuah pura. Selendang untuk yang sudah menggunakan baju/celana panjang sedangkan kain batik digunakan untuk yang menggunakan baju/celana pendek.

Ketika kami sampai disana, acara masih belum dimulai. Acara ini dimulai pukul 17.00 WITA (menjelang matahari terbenam). Jadi ya kami manfaatkan waktu untuk berkeliling seputaran Pura Uluwatu dan memandang jauh ke Samudra Hindia yang luas dan pastinya dalam, sedalam hatiku–eaaaa–.

Pertunjukan Tari Kecak Uluwatu

Pertunjukan tari kecak ini mengisahkan tentang cerita Rama-Sinta dan Rahwana. Pertunjukan dimulai dengan masuknya puluhan penari laki-laki yang menggunakan kain kotak-kotak hitam-putih ke pelataran panggung.

Uluwatu, Bali
Pemain tari kecak

Kekompakan penari sambil mengucapkan kata “cak..cak…cak…cak…cak”..tanpa lelah membuat aku terkesima. Pantaslah turis mancanegara menyukai pertunjukan ini apalagi aku yang turis lokal.

Masuklah tokoh Rama dan Sinta. Rama akan menyelamatkan Sinta yang diculik oleh Rahwana dibantu oleh Laksamana (adeknya Rama). Burung Jatayu juga melihat Sinta di hutan sedang dibawa oleh Rahwana namun dia juga tidak sanggup mengalahkan Rahwana.

Pertunjukan semakin seru ketika tokoh Hanoman (si kera putih) masuk. Kehadikan Tokoh Hanoman yang loncat sana, loncat sini, usil ke penonton membuat penonton tertawa sebelum akhirnya dia masuk ke pelataran bergabung dengan para penari Kecak. Hanoman melawan Rahwana untuk membantu Rama menyelamatkan Sinta.

Pada saat adegan perlawanan Hanoman kepada Rahwana, para penarik kecak ini mengangkat kedua tokoh ini. Kebayang gak siy pasti berat kan ya? –ah, sudahlah, kita tugasnya menonton saja– hehehehe

Aku terkesima dengan pertunjukan ini ditambah nuansa matahari terbenam sudah mulai kelihatan. Sayang langit kurang bersahabat karena ada awan menutupi sang surya yang akan menuju ke peraduannya di ufuk barat sana. Ada adegan bermain api di pertunjukan ini, ketika Hanoman dibakar oleh para prajurit Rahwana. Oh…bagus banget. Suatu hari nanti, aku ingin bisa berkunjung kesini kembali bersama Pak Suami dan duo fajar junior. Aamiin.

Wow, kami masih berdecak kagum ketika berjalan menuju ke parkiran mobil. Yup, kami menutup perjalanan hari kedua kami ini dengan makan malam di pantai jimbaran yang terkenal dengan ikan bakar dan terkenal mahal juga hahahaha. Tapi gak papa lah sesekali..gak dua kali…gak tiga kali kecuali ditraktir.

Jimbaran, Bali
makan seafood bakar

Ahir..menutup perjalanan hari kedua dengan manis karena makan ikan bakar manis bersama kawan-kawan yang manis pula. Semoga ada umur panjang dan rezeki untuk berkunjung kesini kembali..aamiin.

Tips untuk melakukan perjalanan bersama kawan adalah KOMPAK dan SEPAKAT.

Alhamdulillah. Wassalamu’alaykum.

#Day11 #Rabu #27.02.19 #SETIP #EstrilookCommunity #KLIPFeb #MenulisuntukDiriSendiri

Aku seorang wanita yang suka menulis, melalui tulisan aku dapat mengalirkan aliran rasa yang ada di diri, melalui tulisan aku berharap dapat berbagi kebaikan dan melalui tulisan aku dapat bahagia.

16 Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: