Level 11
Bunda Sayang

[Level 11] Peran Orang Tua dalam Membangkitkan Fitrah Seksualitas #Review-D3

Bismillahirrahmanirrahiim. Assalamu’alaykum kawan narablog.

Yeah, hari ketiga ini mendapatkan ilmu lagi tentang Fitrah Seksualitas. Sub materi pada hari ketiga ini adalah tentang “Peran Orang Tua dalam Membangkitkan Fitrah Seksualitas”. Bicara tentang seks ini memang ringan-ringan berat. Ringan diucapkan, namun berat diimplementasikan serta konsekuensinya. Yang sudah didewasa menuju tua seperti aku saja memiliki pemikiran ini, lalu bagaimana dengan anak-anak kita ya? Nah, disini lah justru letak dan tugas kita sebagai orang tua menjalankan perannya untuk mendampingi dan membangkitkan fitrah seksualitas mereka agar tidak terjadi penyimpangan.

Kelompok 3 yang melakukan presentasi ini terdiri dari Teh Ane, Teh Dinda, Teh Intan, Teh Kurniatu dan Tek Luluk.

********************************************
#Tantangan Saat ini (rangkaian berita tentang kasus penyimpangan seks)

*) Berita tentang penyimpangan seksual sebanyak 19 bocah dari Kabupatan Garut yang mengalami kecanduan seks disebabkan seringnya dipertontonkan video porno gay oleh tetangganya (miris sekali ~ naudzubillahhimindzalik)

*) Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menyatakan lapiran kasus pelecehan seksual terhadap anak yang masuk LPSK meningkat 100% setiap tahunnya sejak tahun 2016 (sumber: AyoBandung.com)

*) 80,23% pelaku kekerasan seksual terhadap anak adalah orang terdekat atau yang dikenal oleh korban, sedangkan 19,77% sisanya adalah orang yang tidak dikenal (sumber: AyoBandung.com)

*) Beragam motif peristiwa kekerasan seksual terhadap anak, seperti tingkat ekonomi rendah, penyimpangan seksual, serta tontonan video porno (sumber: AyoBandung.com)

#Apa yang bisa kita lakukan untuk meminimalisir bahkan mencegah hal tersebut agar tidak terjadi pada anggota keluarga kita?

Kembali diingatkan akan makna Fitrah Seksualitas, yaitu bagaimana seseorang bersikap, berpikir, bertindak sesuai dengan gendernya. Setiap anak dilahirkan dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Jenis kelamin ini akan berkembang menjadi peran seksualitasnya. Bagi perempuan akan menjadi peran keperempuanan dan keibuan, sedangkan bagi laki-laki menjadi peran kelakian dan keayahan.

Inti dalam mendidik fitrah seksualitas adalah kelekatan serta pasokan perhatian dan kasih sayang dari ayah dan ibu. Seperti sudah dibahas pada hari kedua kemarin, apabila kondisi tidak dapat menghadirkan salah satu atau kedua orang tua, maka sudah ditentukan sapa yang harus menggantikan peran keberadaan keduanya. Dapat dilakukan oleh wali maupun pemerintah atau negara. Jadi tidak ada alasan seorang anak kurang mendapatkan perhatian tentang fitrah seksualitasnya.

#Bagaimana peran ayah dan ibu dalam membangkitkan fitrah seksualitas pada anak?
Fitrah Peran Ayah (oleh Ust. Harry Santosa – FBE)
  1. Penanggung Jawab Pendidikan
  2. Man of Vision & Mission
  3. Sang Ego & Individualitas
  4. Pembangunan Sistem Berpikir
  5. Supplier Maskulinitas
  6. Penegak Profesionalisme
  7. Konsultan Pendidikan
  8. The Person of “TEGA”
Fitrah Peran Ibu (oleh Ust. Harry Santosa – FBE)
  1. Pelaksana Harian Pendidikan
  2. Person of Love & Sincerity
  3. Sang Harmoni & Sinergi
  4. Pemilik Moralitas & Nurani
  5. Supplier Feminitas
  6. Pembangun Hati & Rasa
  7. Berbasis Pengorbanan
  8. Sang “Pembasuh Luka”
Tahapan Fitrah Seksualitas yang diulang-ulang kembali
  • 0-2 Tahun: Merawat kelekatan awal
  • 3-6 Tahun: Menguatkan konsep diri berupa identitas gender
  • 7-10 Tahun: Menumbuhkan & menyadarkan potensi gendernya
  • 11-14 Tahun: Mengokohkan fitrah seksualitas
  • > 15 Tahun: Fitrah seksualitas kelekatan kelelakian matang menjadi fitrah peran keayahan sejati dan fitrah seksualitas keperempuanan matang menjadi peran keibuan sejati
#Apa yang harus dilakukan orang tua dalam mendidik fitrah seksualitas?
0-2 Tahun (Dekat dengan Ibu)
  • Menanamkan rasa malu (tidak mengumbar aurat bayi di sembarang tempat)
  • Memandikan, mengganti baju, bersuci di tempat tertutup
  • Saat sedang menyusui, membiasakan hanya bayi yang berinteraksi dan melihat aurat ibu
  • Tidak melakukan hubungan seksual di depan anak (bayi)
3-6 Tahun (Dekat dengan Ayah-Ibu)
  • Mengenalkan organ tubuh dengan istilah yang benar
  • Menjelaskan organ tubuh yang tidak dan boleh disentuh orang lain
  • Mengajari cara bersuci dan merawat alat vitalnya (meminta ijin saat hendak memegang)
  • Mengenalkan perbedaan jenis kelamin dalam keluarga
  • Mengenalkan batas aurat laki-laki dan perempuan
  • Memberikan pakaian/aksesoris sesuai gender
7-10 Tahun (Dekatkan sesuai Gender)
  • Mengenalkan dengan fungsi organ seksual (pendidikan seks)
  • Memisahkan tempat tidur anak perempuan dan laki-laki
  • Menanamkan jiwa maskulinitas pada anak laki-laki dan feminitas pada anak perempuan
  • Mengajak shalat berjamaah di masjid dan aktivitas kelelakian
  • Melatih mengerjakan pekerjaan rumah untuk perempuan
11-14 Tahun (Dekatkan Lintas Gender)
  • Mengenalkan mahram & bukan mahram
  • Memberikan pemahaman tentang pubertas (haid dan mimpi basah)
  • Mengajarkan adab meminta ijin saat masuk ke kamar ortu
  • Memerintahkan untuk menjaga aurat dan pandangan
  • Mengenalkan peran dan fungsi sosial sesuai gender
  • Mengajarkan memahami perempuan pada anak laki-laki dan sebaliknya

Jika anak laki-laki tumbuh besar di tengah keluarga yang ibunya mengalahkan dominasi ayah, kelak dia akan sangat mudah dikontrol istrinya. Begitu pula jika anak perempuan tumbuh besar di tengah keluarga serupa, maka kelak dia menjadi seorang istri yang berusaha mengambil alih kontrol keluarganya.

Fitrah seksualitas yang tumbuh paripurna kelak akan menjadi peran keayah-ibuan yang sejati. Peran keayahan yang sejati bagi anak laki-laki dan peran keibuan sejati bagi anak perempuan. Mereka masing-masing akan beradab kepada pasangan dan anak keturunannya.

(kelompok 3)
#Studi Kasus

Seorang anak laki-laki yang mengalami penyimpangan seksual di kala kecilnya karena kurangnya peran kedua orang tua dalam membangkitkan fitrah seksualitasnya. Dia mengalami pelecehan seksual baik dari kakak kandungnya sendiri maupun orang lain, selain itu dia juga menjadi korban bully oleh kawan-kawannya. Dalam pertumbuhan dan perkembangannya, bersyukur dia memilih jalan yang benar dan ketika dewasa dia bisa melanjutkan hidup normal dan berkeluarga serta mempunyai seorang putra.

Sewaktu membaca contoh kasus yang dipresentasikan kelompok 3 semalam, aku langsung teringat dengan anak laki-lakiku. Ya Allah lindungi dia dimanapun dia berada dan tuntun selalu kami dalam ketaatan-Mu. Aamiin.

#Seberapa penting peran orang tua di rumah, peran guru di sekolah dan peran lingkungan luar jika anak sudah mulai bersosialisasi dalam membangkitkan fitrah seksualitas anak?

Pada prinsipnya, terkait penting atau tidak penting pastinya semua memiliki peran penting.

*) Peran orang tua di rumah

Personality = Pendidikan di rumah x Lingkungan. Orang tua memiliki peran besar di ranah pendidikan rumah sejak bayi hingga dewasa. Kekuatan dalam peran ini akan menjadikan anak kuat sehingga kelak terjun ke masyarakat akan memiliki pegangan nilai fundamental yang diajarkan orang tuanya di rumah. Anak akan tumbuh kuat sehingga tidak mudah ikut-ikutan, tidak mudah galau dan tidak mudah terombang-ambing.

*) Peran guru di sekolah

Ini masih berhubungan dengan peran orang tua juga dimana orang tua harus mencarikan sekolah yang terbaik bagi anaknya. Bukan dari kriteria mahal, namun dari kurikulum pendidikan sekolahnya terutama visi dan misi harus sejalan dengan visi dan misi keluarga. Anak sekolah sudah memasuki fase sosiosentris sehingga anak harus latihan bagaimana berinteraksi dengan sesama jenis dan lawan jenisnya. Kurikulum sekolah dan perilaku guru menjadi prioritas utama sehingga dapat terdeteksi dengan baik apabila terjadi penyimpangan-penyimpangan di lingkungan sekolah. Guru memegang peran dominan ketika memantau anak di lingkungan sekolah.

*) Peran lingkungan

Disini tetap membutuhkan peran orang tua. Orang tua harus memantau lingkungan pergaulan anak-anak dalam pendidikan dan pembentukan karakter anak. Orang tua harus mengenali karakteristik pertemanan anak. Intinya melindungi jauh lebih baik daripada mengobati.

********************************************
Hasil ngobrol dengan Kakak dan Adek

“Ibuuu, aku mau nonton film yang tentang aurat kemarin,” kata Adek. Ya seperti ceritaku sebelumnya, waktu aku tontonkan video yang aku dapat dari kawan-kawan kelompok 2 dia kurang antusias, namun semalam dia mulai tertarik. Setelah menonton, aku coba aja diskusi Adek. “Adek, kalo ada yang mau memegang penis Adek, boleh gak?” tanyaku. “Gak boleh,” jawab Adek. Aku mulai mengubah istilah “manuk” menjadi “penis” agar dia mulai memahami dan tidak bingung kedepannya. “Aurat yang boleh dipegang mana Dek?”, tanyaku. “Kepala, tangan ama kaki,” jawab Adek lagi.

Identitas seksualitas menjadi diskusiku dengan Kakak. “Kak, jadi kakak sudah paham belum tentang identitas seksualitas?”, tanyaku. “Sebenarnya masih bingung siy, sama gak siy bu dengan jenis kelamin?,” tanya dia balik. “Beda, jenis kelamin adalah laki-laki dan perempuan. Nah, identitas seksualitas adalah lebih detilnya dari jenis kelamin. Misal, jenis kelamin adalah perempuan, identitas atau karakteristik atau ciri khas perempuan tuh seperti apa, Dia memiliki sifat lembut, memiliki rahim, diberi anugerah mengandung dan menyusui serta menjadi guru pertama di rumah bagi anak-anaknya,” jawabku.

Obrolan ini sebenarnya bukan hanya memberi pengetahuan ke anak-anak, namun pada diriku juga akan arti pentingnya pendidikan fitrah seksualitas ini.

level 11
Waktu diskusi gak sempat foto, jadi fotonya pas mau tidur aja ­čÖé

“Kakak ama Adek tuh harusnya tidur dipisah, jadi kakak tidur sama Mbah Bono,” tambahku. “Kan udah dipisah ama ibu yang ada ditengah-tengah aku ama adek,” jawab dia. Ya, kalo gak ada ayahnya, kami memang tidur bertiga.

Alhamdulillah, Wassalamu’alaykum.

#Gamelevel11 #Tantangan10hari #LearningbyTeaching #Gender #KuliahBunsayIIP #InstitutIbuProfesional #Day3

Sumber: Presentasi kawan-kawan Kelompok 3

Aku seorang wanita yang suka menulis, melalui tulisan aku dapat mengalirkan aliran rasa yang ada di diri, melalui tulisan aku berharap dapat berbagi kebaikan dan melalui tulisan aku dapat bahagia.

Leave a Reply

%d bloggers like this: