Daily Stories with Family

Mamak Menuju Setrong

Bismillahirrahmanirrahiim.

Jumat pagi yang cerah..tidak bermaksud untuk curhat tapi sekedar ingin merelease sesuatu yang tersimpan di hati (sama aja atuhlah hehehehe). Kalian anak sulung bukan? Nah..kali ini aku ingin bercerita tentang pengalamanku sebagai anak sulung. Terlahir sebagai seorang anak sulung membuatku menjadi pribadi yang mandiri dan berusaha menjadi contoh yang baik bagi adek-adek (walo kadang merasa lelah).

Sebagai seorang anak perempuan, bisa jadi aku seharusnya mempunyai sisi manja namun faktanya itu gak terlihat sama sekali pada diriku. Aku sering tidak tahu atau bahkan lupa bagaimana itu menjadi anak manja. Terlalu banyak harapan yang diberikan di pundakku. Berkembang mulai masa kecil dengan inner child yang dibilang tidak terlalu bagus, membuat aku menjadi pribadi yang boleh dibilang kurang percaya diri. Hal inilah yang pada akhirnya membuatku ingin keluar dan hidup jauh dari saudara bahkan orang tua. Namun semakin aku ingin menjauh, justru semakin risau, ternyata aku tidak bisa menjauhi masa lalu ku. Aku harus bersahabat dengan kenangan masa kecilku yang buruk. Pengalaman seringnya melihat orang tuaku bertengkar karena permasalahan keuangan, pada akhirnya membuatku tidak nyaman dengan apapun yang berkaitan dengan keuangan.

Namun, aku lah orang terpilih itu…Allah SWT Maha Tahu akan kemampuan yang aku miliki. Walaupun dengan inner child yang kurang bagus, aku bukan tipikal pribadi yang mudah menyerah. Kalapun terkadang disorientasi aku tetap bisa kembali fokus. Lalu…apakah aku ingin dimanja? tentunya iya lah…walo kuat, tetap saja aku seorang wanita. Sering aku merasa iri melihat kakak-kakak iparku atau adik iparku yang perempuan. Betapa mereka bisa memilih tinggal menjadi ibu rumah tangga di rumah dan tidak mau pergi jauh sendirian kalo gak didampingi suami. Lalu aku?…aku terlalu mandiri mungkin. Sejak memutuskan kuliah di Jogja, orang tua aku praktis percaya padaku bahwa aku bisa. Mereka tidak pernah menunjukan rasa khawatir di depanku. Aku mau pergi tugas kemanapun, mereka sudah tenang. Kepercayaan ini lah yang pada akhirnya membuat aku menjadi pribadi yang bisa mengambil keputusan. Kemandirian ini pun terbawa hingga aku menikah, terkadang aku lupa atau tak sadar kalo sudah menikah (hehehe). Sampai kadang aku lupa bagaimana siy bermanjd-manja itu.

Saat ini ketika pun aku harus menjalani kehidupan berjauhan dengan suami, aku pun merasa biasa saja. Lelah?..capek?..iya lah…namun hanya 1 yang selalu kupanjatkan dalam setiap lantunan doa ku yaitu meminta kesehatan kepada Allah SWT. Karena kesehatan ini lah faktor utama dalam langkahku. Jangan dibayangkan dan tidak mau membayangkan tentang misal aku sakit…karena kasihan anak-anakku. Mereka berdua membutuhkan aku untuk bersandar ketika ayahnya berjauhan.

Mamak Menuju Setrong…itulah yang saat ini aku tuju. Aku harus kuat dalam kondisi ini. Bagi keluarga kecilku, aku adalah pegangan karena anak-anak saat ini jauh dari ayahnya yang sedang bertugas. Bagi keluarga besarku, aku adalah harapan mereka bersandar karena aku yang dinilai memiliki pondasi yang stabil. Yach…ada 2 hal yang harus aku pelajari untuk menggenapkan aku menjadi Mamak Setrong yaitu belajar menyetir agar kemana-mana nyaman bawa anak-anak dan belajar berani mengganti tabung gas agar tidak mengganggu adikku yang selalu dihubungi untuk dimintai tolong menggantikan tabung gas yang sudah habis.

Alhamdulilllah

Leave a Reply

%d bloggers like this: