Bunda Sayang
Bunda Sayang

Melatih Kemandirian Pada Anak – Aliran Rasa Level 2

Bismillahirrahmanirrahiim. Assalamu’alaykum kawan narablog

Alhamdulillah 17 hari kalender sudah kulalui dalam menyampaikan laporan tugas di Game Level 2 ini. Namun pembelajaran dan pendampingan dalam Melatih Kemandirian pada Adek tetap aku jalankan sampai dengan Adek mandiri.

Apa dan Kapan Melatih Kemandirian Anak?

Pastinya kita sebagai orang tua akan merasa sangat bahagia ketika melihat anak-anak kita mandiri. Bukan begitu kawan? Kalo aku siy iya. Karena umur kita tidak tahu akan berhenti pada angka berapa, sehingga kita harus mempersiapkan anak-anak kita mampu mandiri apabila sewaktu-waktu kematian menjemput kita. (langsung mewek).

Dalam di hari pertama kuliah Level 2 Bunda Sayang disampaikan bahwa kemandirian anak erat kaitannya dengan rasa percaya diri. Anak yang percaya diri pasti akan menjadi anak yang mandiri sehingga memiliki karakter yang tidak akan pernah bergantung pada orang lain.

Melatih kemandirian anak tepatnya dimulai sejak usia mereka 1 tahun. Melatih kemandirian memiliki tolok ukur yang berbeda pada setiap rentang usia mereka, sehingga disinilah letak pentingnya keberadaan kita dalam membersamai mereka dalam menumbuhkan rasa percaya diri.

Terdapat 3 sikap utama yang harus dimiliki oleh kita sebagai orang tua dalam melatih kemandirian anak, yaitu:

KONSISTENSI | MOTIVASI | TELADAN

Selain 3 sikap utama di atas, kita sebagai orang tua juga harus memberikan dukungan-dukungan untuk melatih kemandirian anak, yaitu dengan cara:

  • Membuat suasana rumah yang didesain ramah dengan anak-anak
  • Membuat aturan yang dibangun bersama anak-anak
  • Menerapkan konsistensi dalam menjalankan aturan
  • Mengenalkan risiko pada anak
  • Memberikan tanggung jawab sesuai usia anak

Aspek penting apa yang akan berkembang ketika Melatih Kemandirian pada anak?

Sebelum kita memahami lanjut tentang Melatih Kemandirian, kita harus memahami makna dari mandiri itu sendiri. Mandiri adalah memiliki suatu penghayatan/semangat untuk menjadi lebih baik dan percaya diri, mengelola pikiran untuk menelaah masalah dan mengambil keputusan untuk bertindak, disiplin dan bertanggung jawab serta tidak bergantung kepada orang lain.

Dari materi camilan yang disampaikan di kelas Bunda Sayang IIP pada level 2 ini, aku mendapatkan wawasan tentang Aspek Kemandirian menurut Havighurst (1970) yaitu terdiri dari:

  • Aspek Intelektual: Mandiri dalam berpikir, menalar dan memahami beragam kondisi
  • Aspek Ekonomi: Mandiri mengatur ekonomi, kebutuhan tanpa bergantung pada orang tua
  • Aspek Emosi: Mandiri dalam mengelola dan mengendalikan emosi serta reaksinya, dengan tidak bergantung secara emosi dengan orang tua
  • Aspek Sosial: Mandiri dalam hal berani aktif membina relasi sosial dan tidak bergantung pada orang sekitarnya

Lalu, bagaimana dengan peran kita sebagai orang tua dalam melatih kemandirian ini? Pastinya kita tidak hanya tinggal diam, kita pun juga harus belajar dan belajar. Peran orang tua dalam membersamai anak dalam berlatih kemandirian adalah sebagai berikut:

  • BERI KESEMPATAN anak untuk memilih agar terbiasa membuat keputusan sendiri
  • HARGAI USAHA anak dengan apresiasi saat mampu mengatasi kesulitannya
  • HINDARI BANYAK BERTANYA agar anak tidak merasa terkekang
  • JANGAN LANGSUNG MENJAWAB PERTANYAAN anak agar terbiasa berpikir
  • DORONG UNTUK MELIHAT ALTERNATIF sehingga anak kaya sumber informasi
  • JANGAN PATAHKAN SEMANGATNYA dengan dalih tidak ingin anak kecewa

Aliran Rasa yang kurasakan dalam Melatih Kemandirian bersama Adek

Aku memilih Adek sebagai partner dalam level 2 ini. Di usia Adek yang masuk usia 5 tahun, aku merasa penting untuk segera melatih kemandirian pada dirinya. Pekan pertama aku pilih 1 skill yang akan lakukan dengan Adek yaitu “Memakai Baju Sendiri”. Sebenarnya memakai baju sendiri ini sudah diajarkan di sekolah juga, namun Adek cenderung menghindarinya. Seperti memakai jaket, Adek gak mau berusaha belajar memakai sendiri. Adek berpikir daripada ribet, akhirnya dimasukan ke atas saja. Adek rela tidak memakai jaket daripada ribet.

Hari pertama awalnya Adek juga belum mau memakai baju sendiri, alasan yang disampaikan adalah “aku capek”, “nanti kelamaan”. Aku kombinasikan praktek komunikasi produktif dalam pelaksanaan di tantangan ini. Perlahan aku menyusun kalimat yang memberikan motivasi dan meyakinkan Adek bahwa Adek bisa. Nah, disinilah kunci pertama diletakan yaitu KESABARAN. Ya selama ini, aku lebih memilih membantu Adek biar cepat selesai, padahal ini justru membuat Adek jadi sangat bergantung padaku dan Adek merasa tidak percaya diri karena takut aku marah apabila Adek terlalu memakai bajunya.

Selain KESABARAN, aku juga meletakan kunci kedua yaitu KONSISTENSI. Konsistensi ini adalah tantangan untuk mendobrak kemalasan. Bagi aku yang moody ini, menjaga konsistensi ini sangatlah tidak mudah. Seminggu pertama aku masih menjaganya dengan baik, masuk di minggu kedua, aku mulai merasa bosan dan terpancing untuk tidak sabar. Alhamdulillah aku selalu ingat kata hatiku.

“Ingat! Sekali kamu hancurkan KONSISTENSI mu, maka akan hancurlah dinding yang sedang kau bangun”

NOVYA.id

Akhirnya aku mampu bertahan hingga minggu kedua dalam hal KESABARAN dan KONSISTENSI. Perubahan pada Adek pun mulai terlihat. Adek mulai meminta untuk menyiapkan baju sendiri dan meminta untuk mandiri sendiri. Aku pun dengan senang hati mendampingi dan terus memberikan semangat pada Adek. Meskipun fokus dan semangat naik dan turun namun pendampingan tetap diterapkan.

Membangun SUPPORT SYSTEM, ini juga merupakan kunci ketiga yang aku letakkan. Sebagai seorang ibu yang bekerja di ranah publik dan ranah domestik, keberadaan dan penguatan akan support system ini sangat penting. Jadi ketika aku masih di kantor, maka Mbah Bono selaku asisten rumah tangga juga aku ajarkan untuk melakukan hal yang sama dengan apa yang aku terapkan pada Adek. Tantangan mengajarkan ke pengasuh ini lebih berat, terutama dalam hal kesabaran.

Alhamdulillah, hingga hari ini, skill yang dilakukan Adek sudah bertambah. Adek sudah mau makan sendiri, inisiatif mandi sendiri dengan bantuan saat memakai sabun, belajar shaum, ada kesadaran bangun pagi untuk sahur, merapikan mainan dengan bantuan. Aku dan Adek belajar, konsisten dalam melakukan komunikasi produktif dan kemandirian.

Hikmah dan Pembelajaran Melatih Kemandirian yang aku peroleh

  • MELATIH KESABARAN. Yup, ini adalah faktor utama keberhasilan dalam melatih kemandirian.
  • MENJAGA KONSISTENSI. Pembelajaran tentang kebiasaan baik akan dapat terlaksana dengan sukses apabila konsistensi selalu terjaga.
  • MEMBERIKAN TELADAN. Like son like mother, hahaha, ini memang benar. Kita minta anak kita benar, namun kita sendiri memberikan contoh yang tidak benar. Maka akan sulit tercipta kesuksesan dalam pembelajaran.
  • MEMBERIKAN MOTIVASI. Ini sangat penting kawan. Kita harus meyakinkan pada anak kita bahwa mereka mampu. Kita pernah berada pada posisi mereka sehingga lebih tahu situasi yang dihadapi dibanding mereka yang belum pernah berada pada posisi tersebut.
  • MENJAGA KETEGASAN. Nah, ini tambahan penting dariku. Aturan yang sudah kita terapkan, tidak akan dapat berjalan dengan lancar apabila tidak ada ketegasan.

Game Level 2 : #1 #2 #3 #4 #5 #6 #7 #8 #9 #10 #11 #12 #13 #14 #15 #16 #17

Bunda Sayang

Semangat untuk level berikutnya. Alhamdulillah, Wassalamu’alaykum.

#aliranrasalevel 2 #kuliahbundasayang #melatihkemandirian

Referensi bahan:

  • Materi Kuliah Bunda Sayang Batch 5 Institut Ibu Profesional

Aku seorang wanita yang suka menulis, melalui tulisan aku dapat mengalirkan aliran rasa yang ada di diri, melalui tulisan aku berharap dapat berbagi kebaikan dan melalui tulisan aku dapat bahagia.

33 Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: