MyActivityMyStory

Menenun asa…eh salah…Menenun benang menjadi kain maksudnya hehehe

Bulan Februari lalu, aku berkesempatan berkunjung ke salah satu sentra industri perajin kain tenun di pulau Lombok, tepatnya di Dharma Setya yang berada di Desa Sukarare. Di lokasi ini, kita bisa melihat proses menenun yang dilakukan oleh ibu-ibu. Bukan aku namanya kalau berkunjung gak bisa dapat tambahan wawasan hehehehe. Aku mendekati salah satu ibu perajin tenun yang ada, setelah berkenalan kami pun ngobrol. Nama beliau adalah Ibu Sugandri. Beliau bercerita bahwa beliau sudah bekerja di sentra industri ini selama 35 tahun (wiiw..lama juga ya). Sedikit aku mengulas beliau ya sebelum bercerita tentang kain tenun.

Ibu Sugandri mempunyai nama kecil Cantre, setelah menikah dan mempunyai anak nama kecil beliau menghilang berganti dengan panggilan sesuai dengan nama anak pertama. Jadi Sugandri itu bukan nama suaminya namun nama anak pertamanya. Kata beliau, di daerahnya disebutkan bahwa tidak sopan memanggil seorang wanita dengan nama kecilnya apabila wanita itu sudah mempunyai anak (hmmm…gitu ya, karena kalo di Jawa di daerah aku, justru panggilannya berubah menjadi nama suami..kayak aku, suamiku namanya Fajar, maka aku dipanggil Bu Fajar atau mama Amira). Penghasilan Ibu Sugandri setiap bulannya adalah Rp. 500.000,00 (beda banget ya ama proses pembuatan dan harga jual kain tenun itu sendiri).

Kembali ke cerita tentang kain tenun ya. Untuk menyelesaikan sebuah kain tenun sepanjang 4 m dengan lebar kurang lebih 50 cm dibutuhkan waktu selama 1 bulan. Aku melihat alat yang digunakan dan jalinan benang-benang lembut yang banyak ini, terlihat sekali ribetnya pembuatannya. Kalo kita berpikir sejak dari awal proses, dari kapas dipintal menjadi benang, kemudian benang disusun di alat tenun tradisional ini, disusun juga mau membuat pola apa untuk di kain….huaaaa….ribet lah (bagi aku yang baru pertama kali lihat ini). Sebegitu ribetnya proses membuat sebuah kain tenun, namun ketika melihat hasilnya…wow…keren. Walaupun saat ini sebenarnya sudah ada juga ya mesin tenun otomatis yang pastinya proses pembuatannya membutuhkan waktu cukup singkat dibandingkan menggunakan alat tenun tradisional.

Pengennya melihat dari awal pemasangan benangnya, namun sayang waktu berkunjungku gak lama. Banyak nya benang dan kayu-kayu yang terpasang yang digunakan untuk menjaga jarak kerapatan benang dan pola hiasan membuatku sedikit bingung (sampai aku mikir..kalau ada salah aja naruh kayu pembatas pembuat pola, bisa aneh kali ya pola nya). Belum lagi cara merapatkan kainnya, harus dengan kekuatan bulan agar rapat hehehehe (emang sailormoon). Ok, next aku mo cerita pengalaman aku ya mencoba alat tenun ini.

Aku seorang wanita yang suka menulis, melalui tulisan aku dapat mengalirkan aliran rasa yang ada di diri, melalui tulisan aku berharap dapat berbagi kebaikan dan melalui tulisan aku dapat bahagia.

Leave a Reply

%d bloggers like this: