Family Holiday
Melbourne

Menikmati Kota Melbourne di Sore Hari

Bismillahirrahmanirrahiim. Assalamu’alaykum kawan narablog.

Memori akan Kota Melbourne

Baca juga: https://novya.id/welcome-to-melbourne-city/

Kota Melbourne. Bagiku ini adalah kedua kalinya aku mengunjungimu. Bisa berkunjung kesinipun dikarenakan rezeki yang diberikan oleh Allah SWT melalui kantor Pak Suami. Kunjungan pertama di tahun 2012 lalu dikarenakan Pak Suami dikirim tugas ke kota ini selama 2 tahun. Berkat itulah kami mendapatkan kesempatan mengunjungi Pak Suami. Pak Suami harus menahan tidak pulang ke Indonesia selama 4 bulan agar jatah uang transportasinya bisa dibelikan tiket untuk istri dan anak pertamanya waktu itu.

Pak Suami harus menahan tidak pulang ke Indonesia selama 4 bulan agar jatah uang transportasinya bisa dibelikan tiket untuk istri dan anak pertamanya waktu itu. Sedangkan kunjungan kami di akhir tahun 2018 lalu dikarenakan Pak Suami berpindah kantor di kota ini. Kota Melbourne yang aku kenal 6 tahun lalu adalah sebuah kota besar yang tenang dengan transportasi yang sangat nyaman. Kita dapat memilih menggunakan kereta atau tram untuk menuju ke pusat kota. Udara kota yang dapat terasa panas di puncak musim panas dan terasa sangat dingin di puncak musim dingin.

Tahun 2012 lalu aku mengunjungi ketika musim dingin sehingga suhu terendah di pagi hari yang pernah aku rasakan adalah 4 derajat Celsius. Tahun ini aku mengunjunginya pada musim panas dimana suhu di siang hari bisa mencapai 30 derajat Celsius. Nah..ikuti ya ceritaku kali ini.

Perbedaan waktu yang membuat Jetlag

Pada kunjungan kami kemarin, perbedaan waktu antara Melbourne dan Bandung adalah 4 jam. Hal ini membuat jam biologis tubuh kami harus belajar menyesuaikan diri. Waktu sholat subuh di Melbourne adalah pukul 04.30 waktu Melbourne yang artinya sama dengan pukul 00.30 waktu Bandung. Alhamdulillah anak-anak pun mudah dibangunkan untuk sholat secara jam biologis mereka masih mempertahankan bahwa “ini masih tengah malam loh”.

Pak Suami sholat berjamaah di masjid Islamic Center district Coburg yang lokasinya tidak jauh dari kost, hanya dengan mengendarai sepeda saja. Aku tidak sempat mengunjungi masjid ini karena aku memilih sholat di kost saja. Perbedaan waktu ini membuat aku dan duo fajar junior setiap pukul 09.00 waktu Melbourne ngantuk sekali -hehehehe. (alasan untuk pembenaran diperbolehkannya tidur kembali). Alhasil, di hari ketiga ini kami belum beredar jalan-jalan di pagi hari.

Family Holiday
Adek yang tertidur di ruang tamu

Kami beredar setelah waktu dhuhur, sambil menunggu Pak Suami pulang dari masjid, aku menyiapkan bekal buat anak-anak jalan. Maklum Pak Suami gak mau kami sembarangan jajan makanan yang belum jelas halal dan haramnya. Sebenarnya banyak restoran halal bahkan restoran dengan menu Indonesia juga, namun kami tidak jamin apakah lokasi kami jalan-jalan nanti dekat menuju ke tempat tersebut. Kasihan apabila anak-anak keburu kelaparan. Bekal yang aku siapkan pun cukup mudah, yaitu roti tawar dengan olesan selai coklat kesukaan Adek dan nugget goreng kesukaan Kakak plus beberapa botol air mineral. Oia, kalau tidak mau berat bawa minum, kita bawa aja tumbler nanti banyak tersedia kran buat isi ulang air minum.

Naik tram menuju CBD (Central Business District) alias pusat kota

Dari kost Pak Suami menuju ke halte Tram terdekat tidak terlalu jauh. Kami jalan kaki sekitar 10 menit saja. Duo fajar junior sangat menikmati liburan mereka kali ini. Bagi Kakak ini adalah pengalaman keduanya naik tram, sedangkan bagi Adek ini adalah pengalaman pertamanya. Sebelum kami berangkat jalan-jalan, kami diberikan kartu yang bertuliskan “myki”. MYKI ini adalah kartu yang harus dibawa ketika kita akan menggunakan moda transportasi apapun di Kota Melbourne ini. Di setiap stasiun ada semacam alat khusus untuk pengisian MYKI ini. Ntar aku cerita khusus ya.

Family Holiday
Sejak hari pertama kami sudah dibiasakan jalan kaki

Mo tahu penampakan tramnya seperti apa? Yuk intip di bawah ini.

Family Holiday
Tram Jalur Upfield, No. 19

Nah, ini adalah Tram No.19 Jalur Upfield. Kami naik dari halte Stop 31 North Coburg. Selama perjalanan menuju ke CBD, kami akan melalui Melbourne University, Melbourne Zoo dan Victoria Market. Jarak tempuh yang kami harus lewati kurang lebih sekitar 30 menit. Jalanan yang lengang (NO MACET gaes), lingkungan yang bersih dan terdapat banyak taman kota, banyak bangunan yang masih klasik, lalu lintas yang sangat tertib, suhu udara yang sejuk, semua itu membuat kami sangat menikmati perjalanan kami.

Family Holiday
Adek diberi permen oleh seorang Nenek di Tram

Sewaktu di Tram, kami duduk di sebelah seorang Nenek yang sepertinya habis pulang belanja dikarenakan dia membawa tas dorong untuk belanja. Nenek tersebut mengambil sesuatu dari dalam tas belanjanya dan ternyata adalah permen. Permen itu dia berikan ke Adek. Adek pun dengan malu-malu menerimanya. Makasih Grandma πŸ™‚ – sehat-sehat selalu ya.

Kawasan CBD Kota Melbourne

Kami pun sampai di halte terakhir tram yang terletak tepat didepan Stasiun Flinders Street (Stasiun ini adalah salah satu ikon utama Kota Melbourne). Keramaian suasana pun sudah sangat terasa termasuk suasana kemeriahan menyambut hari Natal. Di Melbourne juga sedang musim libur sekolah sehingga banyak wisatawan yang berkunjung. Beberapa kali kami bertemu dengan wisatawan dari Indonesia (kok tahu?). Lah iyalah, secara mereka ngomong pakai bahasa Indonesia, pun selain itu dari wajah pun kami bisa menebaknya.

Jalan-jalan yang kami lakukan sebenarnya belum memiliki tujuan akan ke arah kemana. Aku sebenarnya sudah mempersiapkan beberapa tujuan wisata untuk 10 hari liburan ini, namun ternyata kami lebih memilih untuk menikmati saja apa yang bisa dilakukan. Rencananya adalah kami akan mengunjungi Federation Square yang terletak di seberang Stasiun Flinder Street, namun karena cuaca sangat panas (maklum ini pas musim panas), kami urungkan niat kami.

Okeh, kami harus mengabadikan diri kami bersama salah satu ikon Kota Melbourne ini yaitu Stasiun Flinder Street. Awalnya kami ber-swafoto berempat karena tidak bawa tripod dan suasana trotoar juga sangat ramai oleh para wisatawan. Tiba-tiba ada seorang bapak-bapak menawarkan diri untuk membantu mengambilkan gambar kami berempat dengan latar belakang Stasiun Flinder Street. Bapak tersebut menggunakan bahasa Indonesia, eh ternyata beliau juga sedang berlibur disini bersama keluarganya. Terima kasih pak πŸ™‚

Family Holiday
Stasiun Flinder Street dan Tepian Sungai Yarra

Menikmati suasana tepian Sungai Yarra

Akhirnya kami bergeser ke sisi Prince Bridge dan ketika akan turun ke tepian Sungai Yarra, kami membaca informasi tentang YARRA CRUISSE. Aku minta brosur kepada petugas yang berjaga. Aku dan Pak Suami diskusi dan bertanya kepada anak-anak, pada tertarik gak menyusuri Sungai Yarra naik kapal/perahu. Dan jawabannya adalah duo fajar junior setuju. Jadwal keberangkatan kapalnya masih lama sekitar 2 jam lagi, sehingga kami memanfaatkan waktu menunggu dengan foto-foto dan jalan-jalan menyusuri tepian sungai yang bersih dan bebas dari sampah ini.

Family Holiday
Menikmati suasana tepian Sungai Yarra

Setelah menunggu dan tepat disaat anak mulai bosan menunggu, kami diijinkan masuk ke kapal yang akan membawa kami keliling Sungai Yarra. Aku menikmati suasana sekitar sungai, lingkungan dan bangunan-bangunan yang ada di tepian sungai. Pak Suami tertidur (halah) sedangkan duo fajar junior sibuk sendiri jalan-jalan. Di dalam kapal ada tour guide yang memberikan penjelasan (ngomongnya pakai bahasa inggris, dengan kemampuan bahasa inggris kami dibawah nilai 500 untuk total nilai TOEFL, ya agak-agak susah menangkap penjelasannya, kalo Kakak gak paham karena aksennya British, dia biasa mendengarkan obrolan aksen America).

Family Holiday
Kombinasi Klasik dan Modern

Di tepian Sungai Yarra ini, kita dapat melihat bangunan klasik sejak jaman Romawi mungkin ya yaitu Prince Bridge dan Skydeck Building (gedung tertinggi di Kota Melbourne). Cerita tentang Yarra Cruisse ini aku ceritakan terpisah ya gaes.

Menikmati makan di Nelayan Restaurant

Turun dari kapal, duo fajar junior mengeluh lapar. Pak Suami dengan sigap mengajak kami menuju ke restoran indonesia. Apakah dekat? Oh tentu tidak Marimar – hehehehe. Kami harus berjalan kaki menyusuri Swanston Street terlebih dahulu. Tapi anehnya kami sama sekali tak merasakan pegal di kaki, menikmati sekali setiap langkah kaki kami. Mungkin karena cuaca yang sejuk, kondisi trotoar yang nyaman dan ramah buat pejalan kaki plus karena sedang liburan sehingga suasana hati pun selalu bahagia – baiklaaah.

Family Holiday
Restoran Nelayan

Restoran Nelayan ini adalah salah satu restoran halal yang ada di Kota Melbourne. Pelayannya adalah mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang menghasilkan tambahan uang saku. Jadi ketika masuk kesini, suasana seperti makan di Bandung. Semua ngomong pakai bahasa Indonesia. Menunya rames gaes dengan berbagai menu Indonesia, kita bisa memilih menu yang ada di etalase atau pesan menu yang lain.

Well, perut sudah kenyang, mata sudah termanjakan dengan pemandangan yang segar, sudah waktunya kami kembali ke kost. Waktu sudah menunjukan mendekati waktu sholat maghrib. Kami berjalan kembali ke Elizabeth Street untuk menuju ke halte tram. Okeh, sampai bertemu dengan cerita kami selanjutnya ya gaessee you.

Duo fajar junior belajar tentang moda transportasi Tram, mengenal sungai dan kapal, kemudian olahraga jalan kaki dan menikmati makan menu Indonesia di negeri orang.

Alhamdulillah. Wassalamu’alaykum.

#Day28 #SETIP #EstrilookCommunity #satuminggusatucerita

catatan perjalanan de’Fajar Family Holiday, 24 Desember 2018

Aku seorang wanita yang suka menulis, melalui tulisan aku dapat mengalirkan aliran rasa yang ada di diri, melalui tulisan aku berharap dapat berbagi kebaikan dan melalui tulisan aku dapat bahagia.

46 Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: