Daily Stories with Family

Perjuangan Mendapatkan Rumah Impian

Bismillahirrahmanirrahiim. Assalamu’alaykum kawan narablog.

Rumah adalah salah satu target capaian saya dan suami setelah menikah pada bulan Agustus 2006 lalu. Rencana memiliki rumah sendiri sudah kami susun sejak sebelum pernikahan. Suami saya mempunyai harapan memiliki rumah terlebih dahulu sebelum mempunyai anak. Ketika mendengar harapan ini, dalam hati kecil saya sedikit khawatir. Harapan saya berbeda dengan suami, karena saya ingin mempunyai anak terlebih dahulu, namun saya tidak mau menimbulkan keributan karena adanya perbedaan harapan kami berdua ini. Akhirnya kami berdua menyusun rencana untuk mewujudkan keinginan memiliki rumah impian terlebih dahulu.

Sebenarnya bukan tanpa alasan mengapa suami saya memiliki harapan akan kepemilikan rumah sendiri terlebih dahulu. Suami saya ingin memberikan tempat yang nyaman bagi istri dan anak-anaknya kelak. Pastinya akan sangat berbeda ketika kita tinggal di rumah sendiri dengan tinggal di rumah kontrakan. Kekhawatiran suami saya akan kondisi dimana kami harus membawa anak-anak berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan berikutnya, membuat suami saya sangat yakin bahwa memiliki rumah terlebih dahulu itu jauh lebih penting.

Fokus pada pencarian rumah impian tak membuat kami lalai untuk merencanakan kehamilan juga. Alhasil, usaha untuk hamil dan memiliki rumah kami jalankan bersamaan. Suami saya tidak mau saya bersedih karena harapan saya ingin memiliki anak terlebih dahulu menjadi tertunda. “Menikahlah..maka rezeki mu akan bertambah”, kalimat ini sangat kami rasakan dalam kehidupan pernikahan kami. Secara logika, memang wajar, ketika kita menikah maka rezeki kita akan bertambah dikarenakan rezeki dari 2 orang akan bergabung maka akan bertambah besar rezeki yang diperoleh.

Kami berdua sama-sama bekerja dan apabila kedua gaji kami digabungkan maka pendapatan kami per bulan adalah sekitar Rp. 6 juta. Pos pengeluaran sudah kami persiapkan, dari mulai untuk cicilan akan hutang untuk modal menikah, tabungan untuk pembayaran kontrak tahun berikutnya, asuransi kesehatan, tabungan pendidikan anak, pengeluaran operasional harian, dan membantu orang tua. Dari pos pengeluaran yang ada, setiap bulannya kami masih memiliki sisa pendapatan yang cukup, cukup untuk jajan bakso berdua di Pasar Simpang Dago.

Dari uang pinjaman di salah satu bank BUMN di negeri ini yang kami pergunakan untuk modal menikah masih ada sisa. Rencana awal akan digunakan untuk suami saya melanjutkan sekolah namun ternyata belum rezeki lulus tes sehingga uang tersebut masih utuh. Setelah berdiskusi, akhirnya uang tersebut kami pergunakan untuk uang muka KPR rumah. Kami berdua mulai melakukan survei lokasi rumah impian kami. Dimulai dari Bandung Timur, kami mencoba untuk melihat lokasi perumahan Manglayang Regency yang ada di lereng Gunung Manglayang. Melihat daftar harganya dan rincian cicilan, dari hasil hitungan pendapatan kami berdua, besar cicilan tiap bulan masih masuk dalam anggaran kami, meskipun kami tetap harus hidup sangat berhemat. Hasil survei lokasi, kondisi air bersih, kualitas dan jenis bahan bangunan semua kami sudah cocok.

Selanjutnya kami mulai pengajuan KPR di bank yang direkomendasikan Kantor Pengembang. Hal ini kami lakukan karena pengajuan KPR melalui bank yang direkomendasikan oleh Kantor Pengembang pada umumnya berhasil untuk mendapatkan persetujuan. Kami mengajukan KPR dengan metoda Joint Income (gabungan dari 2 pendapatan antara suami dan istri). Semua proses administrasi kami lalui namun setelah menunggu hingga lebih dari 3 bulan sama sekali tidak ada kabar dari bank terkait persetujuan atau penolakan atas pengajuan KPR kami. Akhirnya kami mendatangi Kantor Pengembang dan diberitahu bahwa pengajuan kami ditolak, hilang sudah uang tanda jadi kami sebesar Rp. 500 ribu.

Pada bulan Mei 2007, kami mencoba mencari kembali lokasi rumah impian kami. Kali ini kami pindah survei ke Bandung Barat, tepatnya di wilayah Sariwangi. Suami saya bersama teman kantornya melakukan survei dan pilihan jatuh di komplek Sariwangi Regency. Disini kami juga melakukan pengajuan KPR melalui bank hasil rekomendasi Kantor Pengembang. Alhamdulillah di bulan Mei ini, saya pun dinyatakan positif hamil anak pertama kami. Kebahagiaan saya dan suami saya semakin bertambah dikarenakan di bulan Juni 2007, pengajuan KPR rumah impian kami pun disetujui oleh bank. Pembangunan rumah impian kami pun dimulai dan kami berdua mulai semakin disiplin dalam pengaturan keuangan kami. Pengaturan keuangan ini bagian yang sangat penting dikarenakan dengan pendapatan Rp. 6 juta per bulan yang merupakan gabungan dari gaji saya dan gaji suami saya ini semakin terasa mepet dengan adanya cicilan rumah impian dan pemeriksaan kehamilan saya.

Dampak yang sangat terasa dengan adanya cicilan rumah impian bersamaan dengan kehamilan saya adalah ada beberapa pos pengeluaran yang harus kami berhentikan, salah satunya adalah asuransi kesehatan. Beruntungnya, kantor suami saya memberikan perlindungan asuransi kesehatan bagi pegawai beserta keluarga sehingga kami hanya mengandalkan dari kantor suami saya untuk pemeriksaan kehamilan saya. Kami pun dengan berat hati harus mengurangi besar bantuan kami kepada kedua orang tua kami. Harapan kami, pada saat saya melahirkan nanti kami sudah dapat menempati rumah impian kami bersama bayi mungil pertama kami. Hari Perkiraan Lahir (HPL) bayi kami adalah di bulan Februari 2008, sehingga kami masih memiliki waktu cukup panjang untuk mempersiapkan rumah impian kami. Kami berdua merasa dari kebutuhan pokok kehidupan kami, hanya tinggal papan yang belum kami miliki, untuk sandang dan pangan, alhamdulillah sudah dapat kami penuhi.

Tabungan kami sudah terkuras untuk persiapan rumah impian kami, sehingga pada saat saya akan melahirkan, tabungan kami hanya tersisa sebesar Rp. 2 juta saja di rekening. Saya sempat panik ketika harus melahirkan secara operasi dimana biayanya tidak murah. Namun suami saya meyakinkan saya bahwa semua biaya ditanggung oleh kantor suami saya. Walaupun sedikit lega, namun tetap saja khawatir, jikalau bayi saya tidak boleh dibawa pulang dikarenakan kami tidak mampu membayar kekurangannya. Alhamdulillah kekhawatiran saya tidak terbukti, semua biaya rumah sakit ditanggung penuh oleh kantor suami saya. Rumah impian kami perlu dilakukan renovasi dahulu sebelum kami tempati, namun uang tabungan kami sudah habis. Alhamdulillah, ada teman saya dan teman suami saya yang baik hati bersedia memberikan bantuan pinjaman uang tanpa bunga untuk renovasi rumah impian kami. Alhamdulillah suami saya juga mendapatkan kesempatan dikirim tugas ke Perancis selama 1 bulan sehingga uang pinjaman tersebut dapat segera kami kembalikan dari hasil suami saya menyisihkan uang sakunya selama tugas. Selain itu, kami pun mendapatkan sisa uang untuk pegangan kami hingga tabungan kami dapat terisi kembali. Akhirnya kami bertiga dapat menempati rumah impian kami pada bulan Februari 2008, tepat 1 minggu setelah kelahiran putri pertama kami.

Tak ada perjuangan yang tidak ada hasil, perjuangan yang baik akan menghasilkan hasil yang baik pula. Alhamdulillah harapan kami memiliki rumah dan anak dapat dikabulkan dalam waktu yang bersamaan. Suami saya sangat yakin apabila kita menolong orang lain yang kesusahan dengan ikhlas, insyaAllah kita akan mendapatkan pertolongan dan kemudahan jalan keluar ketika kita mengalami kesulitan. Allah SWT menggerakan hati teman saya dan teman suami saya sehingga kami berdua mendapatkan pertolongan melalui mereka berdua. Saya sangat bersyukur memiliki suami yang mempunyai keyakinan yang kuat dan positif sehingga saya pun terbawa positif oleh keyakinan beliau. Ada sebuah kalimat yang selalu suami saya sampaikan yaitu “Jangan pernah lupa untuk melibatkan Allah SWT dalam setiap pilihan dan keputusan dalam hidup kita, karena Allah SWT penentu segalanya.”

#draft naskah antologi pertamaku bersama kelas Nulisyuk17

Alhamdulillah. Wassalamu’alaykum.

Aku seorang wanita yang suka menulis, melalui tulisan aku dapat mengalirkan aliran rasa yang ada di diri, melalui tulisan aku berharap dapat berbagi kebaikan dan melalui tulisan aku dapat bahagia.

One Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: