Campur-campur

Pesta Demokrasi di NKRI Tercintaku

Bismillahirrahmanirrahiim. Assalamu’alaykum kawan narablog.

Wah, luar biasa, baru kali ini aku mau menuliskan tentang penilaianku akan Pesta Demokrasi yang ada di NKRI tercintaku ini. Yup, sebenarnya aku adalah pribadi yang tidak terlalu suka berdiskusi tentang politik. Namun apa daya, di dalam kehidupan kita tak bisa lepas dari yang namanya politik. Dari hal sederhana saja, ketika kita akan menentukan lokasi liburan, kita akan melakukan rapat bersama seluruh anggota keluarga. Ada yang ingin kesana, ada yang ingin kesini. Nah ketika tidak ada titik temu maka kita ambil melalui pemungutan suara. Hasil pemungutan suara tersebut harus diterima oleh semua anggota keluarga.

Keluarga adalah struktur organisasi terkecil di sebuah negeri. Nah, aplikasi politik untuk organisasi setingkat negeri pastinya akan sangat kompleks dan bervariasi permasalahan yang dibahas.

Tanggal 17 April 2019 kemarin, sudah dilaksanakan pemilihan umum untuk memilih pemimpin NKRI yang baru untuk masa jabatan 2019-2023. Amankah? Sejauh ini insyaAllah aman dan semoga bisa selamanya aman..aamiin. Siapakah pilihan kalian? Okeh, gak usah dilanjutkan ya, ntar jadi ribet lagi kayak grup Whatshapp di HP aku – hehehehe. Dikarenakan setiap orang memiliki hak untuk bersuara ya biarkan mereka bersuara sesuai suara hati mereka masing-masing. Tapi ikhtiar dengan mengajak orang lain untuk sama dengan suara hati kita tetap gak papa kan? Loh eh..mulai lagi deh. hahahaha.

Pesta Demokrasi
Ini tinta di kelingkingku, mana tinta di jarimu?

Pemilihan Umum (PEMILU)

Ini adalah kesempatan ke-6 aku memberikan hak suaraku, ya pastinya sejak aku berusia 17 tahun. Jadi teringat jaman pemilu (pemilihan umum) pada pesta demokrasi di masa Orde Baru (ORBA) dulu. Dahulu, pemimpin negeri dipilih oleh MPR (lembaga negara tertinggi di negeri ini) kemudian pada tahun 2004 melibatkan rakyat secara langsung untuk memilih pemimpin negerinya.

Pada masa ORBA, aku ingat sekali, setiap akan melakukan pencoblosan didoktrin oleh Bapakku bahwa aku harus mencoblos gambar partai yang ditengah yang berwarna kuning berbentuk pohon. Sempat bingung dan bertanya ke Bapak. Jawaban beliau selalu singkat “Kalo kamu tak memilih itu, nama bapakmu ini akan dihapus dari balaikota yang artinya bapakmu ini tidak akan jadi pegawai negeri lagi”. Akhirnya ya aku nurut aja siy, selama masih dapat santunan dari pemerintah, milihnya yang warna kuning terus – hehehehe.

Lambat laun, perubahan teknis pemilu pun berubah. Pemilu tahun 1999, jumlah partainya bertambah menjadi 5 partai. Mulai tahun 2004, jumlah partainya semakin banyak. Teringat juga pertama kali mencoblos di tahun 2004 serasa mau baca koran karena lembar pencoblosannya besar agar dapat memuat semua gambar partai. Sampai kemarin pun lembar pencoblosan masih besar.

Pesta Demokrasi
Lembar pencoblosan

Di lembar pencoblosan terpampang nama dan wajah para wakil rakyat dari masing-masing partai, dan tak satu pun yang aku kenal. Aku pun hanya berdoa, semoga beliau yang kemarin aku coblos apabila terpilih kelak menjadi pribadi yang amanah. Beliau tidak hanya obral janji selama kampanye dan ketika sudah duduk di kursi dewan menjadi lupa akan janjinya. Ingatlah, janji itu amanah. Apabila tidak ditagih di dunia, pastinya akan ditagih di akhirat kelak.

Ingat ya, berbeda pilihan boleh, tapi jangan GOLPUT ya, berikan suaramu untuk negeri ini.

Yang khas dari sebuah pemilu

Siang ini masih berlangsung perhitungan suara dan siapakah pemimpin negeri tercintaku yang baru ini? Well, kita tunggu hasil perhitungan final dari KPU (Komisi Pemilihan Umum) nanti ya. 2 calon ini memiliki fans masing-masing. Yang selalu bikin sedih ketika pemilu ini adalah adanya saling menjatuhkan antar lawan (this is a half of politics). Sedihnya lagi, sesama kawan bisa jadi ribut dan bermusuhan gegara pemilu.

Kalo mengutip kata-kata salah satu politikus negeri ini yaitu Miing Bagito yang kemarin diwawancara oleh salah satu TV “01 maupun 02 memiliki karakter massa yang berbeda sehingga cara kampanye mereka pun berbeda. Jadi jangan saling mengomentari, karena itu artinya mereka memiliki pengikut yang berbeda karakter. Ibarat sebuah produk, mereka memiliki pasar yang berbeda”.

Pemimpin negeri ini sudah tercatat dalam buku takdir Allah SWT, kita sudah melakukan ikhtiar maksimal, sehingga untuk hasil kita tunggu hasil terbaik dari buku takdir Allah SWT itu. Harapan besar aku adalah semoga negeri ini tetap damai, masyarakat tidak saling bermusuhan, para politikus yang duduk di kursi dewan nanti bisa amanah dan pemimpin baru negeri ini pemimpin yang adil, amanah dan mampu mengemban tugas dengan baik. Aamiin.

Pesta Demokrasi
Bilik suara PEMILU

Maju terus negeriku, Damai selalu masyarakat negeriku, Amanah selalu para pemimpin negeriku.

Alhamdulillah. Wassalamu’alaykum.

#Day32 #SETIP #EstrilookCommunity #KLIPApril #MenulisuntukDiriSendiri

Aku seorang wanita yang suka menulis, melalui tulisan aku dapat mengalirkan aliran rasa yang ada di diri, melalui tulisan aku berharap dapat berbagi kebaikan dan melalui tulisan aku dapat bahagia.

2 Comments

  • Ghina

    Wah masih jg ya mba masa2 pemilu jaman orde baru itu. Saya hanya denger ceritaamnya saja soalnya. Tp sedih jg saya malah golput 2 kali pemilu ini satu keadaan tertentu. Tp semoga, tetap aman damai. Legowo bagi yg kalah dan amanah bg yg terpilih.

Leave a Reply

%d bloggers like this: