Campur-campur

Romansa Si Fulan dan Sang Pencipta

Bismillahirrahmanirrahiim. Assalamu’alaykum kawan narablog.

Kriiiing…kriiiiing…kriiiing….tangan Si Fulan meraba-raba sumber suara itu. Mata Si Fulan terbuka sedikit sambil memegang sumber suara yang ternyata adalah gawai Si Fulan. Dengan sedikit rasa malas, Si Fulan menekan salah satu tombol pada gawainya dan suara yang terdengarpun mati. Si Fulan terbangun dan terduduk di samping tempat tidur. “Ya Allah, terima kasih kau ijinkan aku bangun kembali dari tidurku untuk bersimpuh dihadapan-Mu,” lirih Si Fulan.

Si Fulan bergerak jalan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan kembali melaksanakan dua rakaat sholat sunah tahajud di dini hari yang cukup dingin itu. Dalam sujud panjangnya, Si Fulan membangun romansa dengan Sang Pencipta melalui berbaris-baris doa yang dia panjatkan.

romansa
ilustras sujud (sumber gambar: shuttestock.com)

“Ya Allah, Alhamdulillah Engkau panggil aku untuk kembali mendekat kepada-Mu dari teguran dalam kehidupanku. Ya Allah, ampunilah kekhilafan dan kesalahanku yang sudah terlalu jauh menjauh dari-Mu. Ya Allah, melalui sujud panjangku ini, aku mohon ampunan-Mu. Semoga Engkau berkenan memaafkan aku. Ya Allah, ujian masalah yang Engkau hadirkan dalam kehidupanku adalah panggilan sayang-Mu kepadaku untuk kembali kepada-Mu. Segala kemewahan di dunia ini, telah menjauhkanku dari-Mu Ya Allah. Ya Allah kumohon Engkau berikan kesembuhan bagi ibuku, Engkau berikan kesehatan dan kebahagiaan bagi kedua orangtuaku dan Engkau berikan aku kemudahan, keikhlasan dan kesabaran serta jalan keluar dalam menyelesaikan masalah-masalah yang saat ini menyapaku. Ya Allah perkenankanlah doaku. Aamiin”

Si Fulan duduk terpekur di atas sajadah turkinya. Dia kembali mengingat beberapa kejadian buruk yang menimpa dia dan keluarganya. Berbagai masalah tak berhenti-henti menerpa keluarga mereka hingga Si Fulan nyaris putus asa menghadapi itu semua. Ketidakmampuan dia menyelesaikan masalah nyaris membuat Si Fulan mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya. Beruntung dia terselamatkan oleh seseorang yang menariknya dari jalur kereta api di malam itu. Si Fulan menangis keras hingga rasa sesak di dalam hatinya terkeluarkan semua.

Lelaki yang menolongnya itu membawanya ke sebuah langgar kecil di dekat lokasi dia ingin mengakhiri hidupnya. Lelaki itu berpesan kepadanya “Semua masalah itu insyaAllah ada jalan keluarnya. Siapa kah yang memberi masalah dalam hidupmu? Allah SWT bukan? Maka Allah SWT pasti akan memberikan jalan keluar untukmu. Coba kau ingat lagi, apabila kamu seorang muslim, perbaikilah sholatmu. InsyaAllah engkau akan diberikan solusi atas masalah yang kau hadapi. Bukan dengan jalan mengakhiri hidupmu begini. Bukan solusi yang akan kau dapat, namun masalah baru akan kau timbulkan”

Si Fulan tertunduk dalam dan menangis menyesal. Dia dulu adalah anak yang sangat shalih. Tak pernah sedikitpun dia terlambat menjalankan ibadah sholat, rajin berpuasa dan menjalankan ibadah sunah lainnya. Namun sejak dia bekerja di salah satu perusahaan ternama di ibukota, sedikit demi sedikit kebiasaan baik itu mulai dia tinggalkan. Sholat dia lakukan hanya sebagai pelepas kewajiban. Kemewahan dunia yang dia dapatkan dari kantor mengurangi romansanya kepada Sang Pencipta. Rasa syukur pun jauh dari mulutnya.

Sang Pencipta masih sangat sayang padanya sehingga memberikan teguran berupa ujian yang memberikan tanda bahwa Sang Pencipta rindu akan romansa yang suka dilantunkan Si Fulan dalam setiap sujud panjangnya. Si Fulan pun tersadar, dia menyadari bahwa selama ini dia sudah tidak pernah membangun romansa dengan Sang Pencipta. Romansa terdekat antara Sang Pencipta dengan hamba-Nya adalah pada saat hamba-Nya memanjangkan sujudnya dan melantunkan berbaris-baris doa dalam sujud panjangnya itu.

Kini, Si Fulan memulai kembali romansa terindahnya bersama Sang Pencipta pada setiap sepertiga malam. Walaupun masalah dalam hidupnya belum sepenuhnya teratasi namun dia lebih tenang dalam menjalani kehidupannya. Ketenangan diri yang dimiliki Si Fulan inilah yang pada akhirnya membuka hati dan pikirannya sehingga Sang Pencipta menjawab lantunan doa dari romansa Si Fulan melalui jalan keluar dari setiap masalah yang sedikit demi sedikit menampakan hilalnya. Dalam lantunan lirih barisan doa yang dia panjatkan kepada Sang Pencipta tak lupa dia selalu memohon ampunan atas kesalahan yang sudah dia lakukan dan berjanji untuk selalu memperbaiki diri.

Benar kata lelaki penolongnya waktu itu bahwa Sang Pencipta rindu akan romansa yang selalu dihadirkan Si Fulan dalam setiap malamnya sehingga ketukan halus itu menarik Si Fulan kembali mendekat kepada Sang Pencipta.

Alhamdulillah. Wassalamu’alaykum.

#Day13 #SETIP #EstrilookCommunity #KLIPMaret #MenulisuntukDiriSendiri #satuminggusatucerita #minggubertema

Aku seorang wanita yang suka menulis, melalui tulisan aku dapat mengalirkan aliran rasa yang ada di diri, melalui tulisan aku berharap dapat berbagi kebaikan dan melalui tulisan aku dapat bahagia.

69 Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: