gadget
MyActivityMyStory

Separuh Hidupku Bersama Gadget

Bismillahirrahmanirrahiim. Assalamu’alaykum kawan narablog.

Ini adalah judul kajian Murrabians Sister pekan lalu, Sabtu, 07 September 2019 di Masjid Al Murrabi, Setrasari, Bandung. Alhamdulillah, masih diberikan kemudahan menjemput ilmu di kajian pekan kemarin. Pada pekan ini terdapat 2 orang pemateri yaitu Ibu Lia Dinnia, S.Psi (Psikolog Islam) di Biro Konsultasi Psikologi Family Fest dan Ustadz Hasan Faruqi, S.Pd.I (Moslem Parenting) sebagai Founder Insting (Inspirasi Parenting) dan Founder KORNI (Komunitas Keluarga Qurani).

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar. Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Allah memiliki karunia yang besar”

Qs. Al Anfal Ayat 27-29

3 ayat dari Qs. Al Anfal ini menjadi pembuka kajian. Selain itu diperlihatkan juga video pendek tentang penggunaan gadget. Sebuah pesan disampaikan “Bahwa apa yang ada di sosial media itu hanya 1% dari 99% kehidupan seseorang tersebut”. Kita juga tidak boleh membandingkan hidup kita dengan kehidupan orang lain. Pesan terakhir yang disampaikan dalam video pendek tersebut adalah “Bijak dalam menggunakan smartphone. Gunakan smartphone untuk fokus pada tujuan dan cita-cita”.

Dampak pemakaian Gadget

Ibu Lia menyampaikan bahwa anak-anak kita adalah tamu yang luar biasa yang dititipkan oleh Allah SWT kepada kita. Dalam hadist berikut disampaikan bahwa anak itu lahir fitrah, orang tualah yang menjadikan dia nasrani, yahudi dan majusi.

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah hingga ia fasih (berbicara), maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

HR. Bukhari dan Muslim

Di dalam Al Qur’an juga disampaikan pesan bagi kedua orang tua dalam mendidik anak-anaknya, yaitu:

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”

Qs. At-Tahrim Ayat 6

Ayat ini menjadi misi dari keluarga kami. Semoga kami diberikan kemudahan dan kesabaran. aamiin. Selain itu, Ibu Lia juga menyampaikan salah satu ayat dalam Al Qur’an yang mengingatkan kembali kepada kita-kita para orang tua agar kita tidak meninggalkan keturunan yang lemah, baik lemah dalam aqidah maupun lemah dalam hal materi.

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar”

Qs. An Nisa Ayat 9
#Pemahaman tentang Gadget

Tak selamanya gadget itu salah. Gadget membantu kehidupan kita juga, selama kita pandai dalam pemanfaatannya. Melalui gadget kita mendapatkan informasi tentang perkembangan dunia. Dampak positif dari Teknologi adalah sebagai berikut:

  • Kemajuan teknologi dapat membuat anak jauh lebih fasih dengan teknologi, terutama teknologi informasi. (anak-anak menjadi tidak gagap teknologi)
  • Teknologi informasi dapat membuat banyak kemudahan, seperti kemudahan dalam mendapatkan informasi berbagai macam ilmu pengetahuan (memperluas wawasan) dan juga kemudahan menjalin kontak.
  • Kemajuan teknologi telah menciptakan berbagai permainan yang kreatif.
  • Kemajuan teknologi telah menciptakan sebuah pergaulan yang lebih luas lewat jalur maya (cyber space).
  • Anak dapat mengenal dan menjalin hubungan dengan lebih banyak orang dari berbagai belahan dunia.
  • Secara umum, teknologi dapat menjadi sarana untuk: informasi, mendidik, mempengaruhi, dan menghibur.

Sedangkan dampak negatif dari Gadget adalah sebagai berikut:

  • Anak cepat puas dengan pengetahuan yang diperolehnya dari gadget dan menganggap pengetahuan terlengkap/final.
  • Banyak kemudahan, berpotensi tidak tahan kesulitan/tidak sabaran.
  • Lupa beribadah.
  • Malas menulis dan membaca.
  • Penurunan kemampuan bersosialisasi (komunikasi, tidak peduli, life skill).
  • Cyber Bullying (data pribadi, rawan penipuan, depresi dan bunuh diri).
  • Mudah menemukan pornografi.
  • Gangguan kesehatan fisik dan mental.
  • Membandingkan dengan peer group di dunia maya.

Ibu Lia menyampaikan bahwa beliau memiliki pengalaman dimana saat ini sudah ratusan anak sekolah SMP yang sudah kecanduan pornografi. Mereka sudah tidak malu apabila melakukan masturbasi – naudzubillah min dzalik. Ya Allah lindungi anak-anak kami dimanapun mereka berada – hiks. Yang lebih memprihatinkan lagi, mereka ini adalah pelajar yang sekolah di sekolah Islam.

#Ragam kejahatan di dunia digital

Saat ini sudah mulai marak kejadian kejahatan di dunia digital yang menyerang anak. Apa saja kejahatan yang sering terjadi pada anak-anak? Ini dia:

  • Cyber Bullying; yaitu segala bentuk kekerasan atau kejahatan yang dialami seorang yang dilakukan oleh teman seusianya melalui internet. Bentuknya dapat berupa intimidasi, ejekan, hinaan melalui intenet atau telepon genggam.
  • Pornografi Anak; yaitu anak-anak terpapar tontonan yang belum waktunya mereka tonton. Dampak dari pornografi ini adalah kecanduan, merusak otak, keinginan mencoba dan meniru serta mulai berkeinginan melakukan seksual.
  • Penculikan, pelecehan sexting, cybersex; Nah kalo ini saat ini juga mulai marak terjadi. Melalui media sosial, anak-anak dapat mengalami penculikan dan pelecehan seksual.

Ibu Lia memberikan pesan bahwa ada baiknya di dalam keluarga dilaksanakan kajian keluarga secara rutin sehingga ilmu yang sudah kita dapat dari luar dapat kita sampaikan kepada keluarga kita. Ketika kita belajar agama harus seimbang, artinya belajar agama harus ada buku dan ada guru. Kita juga harus paham makna hidup. Ada yang belum tahu, makna hidup kita apa? Bacalah Qs. Adz-Dzariyat ayat 56.

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”

Qs. Adh-Dhariyat Ayat 56

Ajari anak-anak kita untuk memahami tubuhnya sendiri. Bagian tubuh mana yang boleh dipegang oleh orang lain dan mana yang tidak boleh dipegang oleh orang lain.

#Apa itu “Adiksi”?

Adiksi adalah ketergantungan akan zat atau sesuatu. Adiksi merupakan gangguan kesehatan yang sangat berbahaya. Tanda-tanda adiksi Gadget pada anak adalah sebagai berikut:

  • Tidak cepat merespon jika dipanggil saat sedang memainkan gadget
  • Keasyikan/lupa waktu
  • Sulit jika diminta berhenti bermain gadget
  • Pembelaan dan mudah marah jika diinterupsi
  • Pekerjaan rumah terbengkalai/tidak selesai/prestasi sekolah menurun
  • Sering bermain gadget sembunyi-sembunyi (berbohong)
  • Menarik diri dari lingkungan
  • Kehilangan ketertarikan dengan aktivitas lain
  • Menggunakan sebagai jalan keluar

Lalu, mengapa Gadget membuat anak jadi Adiksi? Karena:

  • Merasakan kebebasan
  • Menikmati kesenangan
  • Menunjukan eksistensi
  • Merasakan kekuatan
  • Menjadi lebih percaya diri
  • Lari dari kenyataan hidup (stres, bullying dan konflik)
  • Jendela dunia (window of the world)

Saat ini masih banyak terlihat bahwa untuk pemahaman agama masih sebatas ritual saja belum ke pemahaman yang lebih dalam yaitu pada level Spiritual Quotient (SQ)/Kecerdasan Spiritual. Kita sebagai orang tua harus memiliki sikap untuk KONSISTEN dan KOMITMEN dalam memberikan waktu pemakaian gadget kepada anak. Kita yang mulai mengenalkan gadget pada anak, jadi tugas kita juga yang harus mengelola waktunya. Selain itu kita juga harus memiliki pemahaman karakter anak dari generasi ke generasi. Dari mulai generasi milenia hingga generasi alfa saat ini.

#Beberapa pendekatan yang harus dihindari kepada anak yang pubertas

Ada beberapa pendekatan yang selama ini sering kita gunakan dalam menasehati anak, yaitu:

  • Gaya Hakim; yaitu kita langsung melakukan ketok palu dengan mengambil kesimpulan dan memutuskan bahwa anak-anak salah tanpa mendengarkan penjelasan dari mereka terlebih dahulu.
  • Gaya Penceramah; yaitu kita menasehati dengan membawa kata “surga” dan “neraka”, tanpa memberikan penjelasan atau mendengarkan terlebih dahulu sehingga menimbulkan kesan hanya menakuti saja.
  • Gaya Pemeriksa; yaitu melakukan interograsi secara mendalam sehingga anak merasa terintimidasi oleh orang tuanya sendiri.
  • Gaya Sindiran; yaitu memakai kalimat yang menyindir sehingga anak merasa direndahkan, diejek dan tidak dihargai.

Dalam menasehati anak harus lebih mengutamakan sikap yang bijak yaitu melalui kata-kata yang baik dan memilih waktu yang tepat misal pada waktu teta (saat menuju tidur). Pemilihan kata dan waktu yang tepat ini membuat anak serasa terhipnotis oleh kita sehingga apa yang kita sampaikan dapat diterima dengan mudah.

Mayoritas anak-anak memiliki kemampuan visual yang lebih baik dibanding auditori/kinestetis sehingga memberi contoh langsung adalah cara yang paling tepat. Selain itu, ekspresi wajah kita pun harus sesuai dengan apa yang kita ucapkan. Hal ini dikarenakan akan lebih fokus pada wajah kita dibandingkan dengan suara kita.

Kita juga harus lebih banyak menyediakan waktu untuk dialog dan mendengarkan (Listening). Listening ini adalah tahapan mendengar secara lebih dalam dengan empati. Ada cara pemanfaatan gadget dengan baik (Raise Media Smart Kids), yaitu dengan cara:

  • BATASI; Kapan, dimana, konten, dan teknologi apa yang boleh dan tidak boleh
  • PATUHI; Sepakati aturan penggunaan, dan jangan lupa untuk menegakan aturannya
  • KRITISI; Kritisi apa saja konten digital, biasakan kritis pada konten
  • DISKUSI; Jangan hanya melarang, diskusikan secara sederhana
  • NIKMATI; Gunakan bersama anak dan temukan manfaatnya.
gadget
Ibu Lia Dinnia, S.Psi.

Anakku Kecanduan Gadget

Pada sesi berikutnya, Ust. Hasan Faruqi, S.Pd.I menyampaikan tentang metode mendidik anak. Selama ini kita sering me”nasehat’i anak kita, nasehat itu baik namun harus ada porsi dan dikelola agar anak tidak overdosis dalam menerima nasehat. Ada 4 poin utama yang disampaikan oleh Ust. Hasan yaitu:

#Yakinlah bahwa Allah SWT yang menggerakan semua

Ada istilah yang digunakan yaitu MBA (Mendidik Bersama Allah SWT). Dimulai dengan memunculkan keyakinan kepada Allah SWT yang digunakan untuk penguatan pondasi Aqidah. Salah satu dampak dari pondasi yang tidak kuat ada 2 indikator yaitu apabila BERHASIL akan membuat anak menjadi TAKABUR dan apabila GAGAL akan menimbulkan PENYESALAN.

Sebuah pertanyaan sering muncul “Mengapa harta dan anak disandingkan?” Karena orang akan tergoyah imannya ketika dihadapkan pada harta dan anak. Kita harus merubah mindset bahwa anak itu bukan milik kita, dia adalah tamu yang wajib kita perlakukan dengan baik. Ketika melihat anak, muncul pemikiran bahwa mereka adalah ayat-ayat cinta dari Allah yang dititipkan kepada kita.

#Bermainlah bersama anak

Rasulullah SAW selalu memiliki waktu untuk bermain dengan cucu-cucunya, karena masa kanak-kanak adalah masa bermain. Pertanyaan yang tepat terkait gadget adalah “Bagaimana orang tua mengelola gadget untuk anaknya?”. Jadi kunci utamanya adalah pada orang tua, bukan pada perintah ke anak. Bukan kita meminta anak untuk memahami kita namun kita yang harus menyediakan waktu untuk bermain dan memahami anak-anak kita.

#Jangan menyalahkan perkembangan jaman

Ada kalimat “Jangan mencela jaman”. Karena tidak ada yang salah dengan jaman, kalopun ada masalah, yang salah adalah cara kita menyikapi jaman.

#Tahapan dalam membangun karakter anak

Tahapan dalam membangun karakter anak adalah sebagai berikut:

  1. TELADAN; Sudahkah kita sudah menjadi teladan yang baik bagi anak?
  2. INSPIRASI dan MOTIVASI; Kita rajin membacakan artikel atau kisah tentang sikap atau tokoh yang baik. Misal: Mengajak anak sholat. Kita mulai dengan menjelaskan keutamaan sholat bukan langsung menyuruh sholat, sehingga anak melaksanakan sholat dengan pemahaman keutamaan sholat.
  3. PENDAMPINGAN; Anak itu bukan tidak bisa namun dia belum mahir berbuat baik. Hal ini lah keberadaan kita mendampingi mereka agar menjadi mahir berbuat baik.
  4. DISIPLIN dan KONSEKUENSI; Kedua hal ini ada tahapan aktivitas yang dilakukan.

Penerapan DISIPLIN dan KONSEKUENSI dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

  • AKRAB dengan ANAK; Penerapan disiplin ini dimulai dengan membangun bonding/kedekatan dengan anak. Ketika mengobrol dengan anak lakukan 3V (VERBAL (kata-kata) ~ VISUAL (ekspresi/bahasa tubuh) ~ VOCAL (suara)).
  • MUSYAWARAHKAN; buat aturan main yang disepakati bersama. Hal ini dilakukan agar lebih belajar mengendalikan daripada tidak mengenal.
  • TINDAK dengan TEGAS; Tegas bukan berarti kasar, lembut bukan berarti lembek.
  • KONSEKUENSI; dapat menggunakan sistem reward dan punishment.
#Contoh Sikap Konsisten dari Pak Ustadz

Jangan pernah sekali-kali kita menindak anak tanpa musyawarah terlebih dahulu, karena anak belajar konsistensi dari orang tua.

Misal: Kita sudah berjanji kepada anak bahwa hari senin nanti akan membelikan buku. Ternyata pada hari senin tersebut, anak mogok tidak mau berangkat sekolah. Pastinya kita marah. Lalu apa yang kita lakukan?

Mayoritas ibu-ibu menjawab “Tidak jadi membelikan anak buku di hari senin tersebut”

Ini adalah sikap yang salah. Mengapa? Karena kita tidak memiliki kesepakatan dengan anak tentang “apabila anak tidak mau sekolah, maka kita tidak akan membelikan buku”. Jadi kita tidak bisa memutuskan sepihak keputusan yang sudah kita buat dengan anak. Sikap yang tepat adalah kita tetap membelikan anak buku dan meminta kepada anak untuk tidak mogok sekolah lagi di lain waktu. Kita mengajarkan konsistensi dalam mengambil keputusan.

gadget
Ustadz Hasan Faruqi, S.Pd.I

Alhamdulillah, semoga catatan ini bermanfaat bagi diriku dan yang membacanya. Aamiin. Wassalamu’alaykum.

#Day8 #ODOPEstrilookCommunity #ODOPSeptember #ODOP2019

Aku seorang wanita yang suka menulis, melalui tulisan aku dapat mengalirkan aliran rasa yang ada di diri, melalui tulisan aku berharap dapat berbagi kebaikan dan melalui tulisan aku dapat bahagia.

40 Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: