Lomba Menulis

Yuk..Intip 2 Hal yang Sempat Membuat Aku Panik ketika Masuk Kelas Matrikulasi IIP Namun Akhirnya Membawaku Menjadi Agen Perubahan dalam Keluarga

Bismillahirrahmanirrahiim. Assalamu’alaykum kawan-kawan narablog

Dalam rangka ikut menyemarakan #1stAnniversary Ibu Profesional Asia, aku pun ingin memberikan sumbangsih peran serta melalui tulisan. Berawal kisah pada tahun 2017, ketika kali pertama mengenal Institut Ibu Profesional (IIP) dari salah satu kawan di komunitas narablog 1minggu1cerita, kemudian mulai mencari informasi tentang komunitas IIP ini. Dari visi dan misi yang ada di laman IIP, muncul keyakinan bahwa komunitas ini dapat membantu ku menjadi seorang agen perubahan keluarga yang bahagia.

sumber: website Institut Ibu Profesional

Atas ijin Allah SWT, aku pun dinyatakan lolos untuk masuk di kelas Foundation dan dilanjutkan di kelas Matrikulasi. Kelas Foundation harus kami tempuh dalam waktu 2 minggu melalui online di grup Whatsapp (WA). Di kelas ini kami dikenalkan dengan Institut Ibu Profesional (IIP) dari mulai kepengurusan, kurikulum dan kegiatan yang dilaksanakan. Pemanasan belajar di kelas Foundation ini menjadi pijakan bagi kami masuk ke kelas Matrikulasi. Apakah kelas Matrikulasi lebih ringan? Ahaa, tentu tidak Esmeralda. Selamat datang mahasiswi Matrikulasi di kelas Matrikulasi Bandung 3, yup aku siap masuk ke kelas ini untuk bersiap menimba ilmu.

Kelas Matrikulasi yang kami ikuti selama hampir 3 bulan ini terasa ringan bercampur berat. Loh kok bisa? Terasa berat dikarenakan setiap minggu kami harus mengumpulkan tugas yang dinamakan NHW (Nice HomeWork). Fasilitator pendamping menyampaikan bahwa NHW ini masih ringan karena hanya dikumpulkan setiap minggu, nanti di kelas sebenarnya tugas dan homework harus dikumpulkan setiap hari. Lalu apakah yang membuat terasa ringan? Walaupun NHW yang diberikan ini terasa berat, namun kebersamaan kami yang saling mendukung dan menyemangati membuat yang berat tadi menjadi ringan. Setiap NHW mempunyai cerita bagi masing-masing mahasiswi begitupun aku.

2 hal pertama yang membuat aku panik namun justru mengantarkan ku pada rasa syukur dan bahagia adalah sebagai berikut:

#1. Merasa paling minim ilmu

Perasaan ini aku rasakan ketika kelas diskusi berlangsung. Setiap kawan sepertinya memiliki bekal ilmu pengasuhan anak dan ilmu penguatan kapasitas diri yang sangat baik. Kalau ditanya terkait ilmu pengadaan barang/jasa, aku merasa siap untuk menjelaskan, namun ketika diskusi seputar ilmu pengasuhan anak, keluarga dan produktivitas diri, aku merasa kecil. Dalam hal ilmu pengasuhan anak dan keluarga, aku memang lebih banyak menggunakan ilmu turunan (kok tidak ilmu pendakian?). Ilmu turunan dari orang tua ku ini sudah tidak sejalan lagi dengan kondisi saat ini, hal ini terasa olehku dikarenakan perkembangan dunia di masa lampau dengan saat ini banyak sekali perbedaannya. Nah, aku semakin yakin bahwa aku tidak salah untuk bergabung disini. Lupakan dulu rasa malu karena merasa paling minim ilmu. Semakin hari ilmu yang kudapat semakin banyak baik melalui materi, diskusi NHW maupun kegiatan berbagi pengalaman.

Ada materi dan NHW yang membuat kami terutama aku termenung panjang yaitu ketika kami harus belajar dan menyusun tugas tentang Misi Hidup, Milestone dan Be-Do-Have untuk diri dan keluarga kami. Ya Allah, aku terlupa akan misi hidup kami dalam menjalani bahtera kehidupan ini. Alhamdulillah suami sigap dan langsung menentukan bahwa Misi Hidup keluarga kami terutama suami selaku kepala keluarga adalah sesuai QS At-Tahrim Ayat 6:

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Dari misi hidup ini, aku mulai menyusun rencana untuk mengisinya agar semua terpusat pada misi tersebut. Ilmu yang kuperoleh dari materi dan diskusi di kelas semakin menambah keyakinan dan langkah ku lebih mantap dalam menyusun milestone keluarga. Ilmu apa saja dan aktivitas apa saja yang harus aku persiapkan untuk membersamai anak-anak dalam rangka membekali perjalanan hidup mereka. Alhamdulillah, beberapa ilmu sudah mulai aku terapkan dan kami bersama menjalaninya dengan penuh rasa syukur. Untuk mencapai dan mengejar milestone, yang pertama aku lakukan adalah aku ingin bisa mengikuti kelas Bunda Sayang sebagai level pertama di IIP ini (doakan ya kawans). Be-Do-Have yang sudah mulai dilakukan adalah minat dalam bidang menulis dengan mengikuti pelatihan dan workshop terkait penulisan.

#2. Merasa paling tua

Ya aku merasa paling tua. Hal ini aku ketahui pada saat kegiatan berbagi pengalaman. Pada saat perkenalan akan terlihat tahun kelahiran masing-masing siswi. Mayoritas dari kawan-kawan kelas aku adalah kelahiran tahun 90-an, sedangkan aku kelahiran tahun 79. Wow, minder? Yup, sangat minder. Rasa tidak percaya diri (minder) sempat menghantuiku di awal kelas berlangsung. Ketika kami diberi kesempatan untuk saling bertatap muka pada acara kopdar (kopi darat) barulah aku merasakan lebih percaya diri. Mereka semua nyaman-nyaman saja bersahabat dengan aku dan aku pun merasakan begitu. Ketika rasa percaya diri itu muncul, membuat ku semakin mudah untuk menyerap materi dan ilmu yang diberikan.

Kebersamaan, keakraban, kobaran semangat dari masing-masing siswi membuat kami merasakan kenyamanan dalam kelas. Tidak ada kamus “Tua-Muda” lagi dalam kebersamaan kami. Aku sendiri mempunyai prinsip bahwa “Tidak ada kata terlambat untuk belajar”. Jadi di usia yang sudah senior ini, tetap selalu merasa junior ketika kita belajar sehingga memicu semangat. Ketika masuk kelas pun kami selalu diingatkan untuk selalu mengosongkan gelas, sehingga gelas yang kosong pada diri kami dapat terisi penuh dengan ilmu baru yang siap kita olah, kita rasakan, dan kita alirkan. Ilmu pun tidak harus dari yang tua, dari yang muda pun kita dapat memperoleh ilmu yang bermanfaat. Tidak percaya? Buktikan!

Bergabung dalam kelas matrikulasi IIP membuat hidupku lebih terarah dalam capaian. Ilmu pengasuhan anak dan keluarga pada prinsipnya sudah kita jalani namun masih belum terarah sehingga capaian belum dapat terlihat dengan baik. Melalui gambaran umum kurikulum IIP ini, penerapan ilmu menjadi lebih jelas. Salah satu hal yang membuat hidup aku lebih bahagia adalah aku sukses menyerahkan jabatan di kantor demi bisa mendapatkan ketenangan dalam membersamai anak-anak sepulang dari kantor. Yup, bidang kerja yang kujalani dan pimpinan yang menjadi atasanku sangat berat (bagiku), namun bisa saja ini tidak berat bagi rekan kerjaku yang lain. Jadi saat ini fokus utama ku dan suami ku adalah mencetak generasi penerus dalam keluarga kami yang saleh dan saliha. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan dan kelancaran. Aamiin.

“Menjalin Makna di Kebun Kata, Menuai Manfaat untuk Semua”

Tulisan ini diikutsertakan dalam Sayembara Menulis dalam rangka Satu Tahun Berdirinya Ibu Profesional Asia.

#IbuProfesionalASIA #1stAnniversaryIPAsia

Alhamdulillah, Wassalamu’alaykum.

Saya seorang wanita yang suka menulis, melalui tulisan saya dapat mengalirkan aliran rasa yang ada di diri, melalui tulisan saya berharap dapat berbagi kebaikan dan melalui tulisan saya dapat bahagia.

20 Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: